Minggu, 26 Februari 2017

Menukil Asal-Usul Mahapatih Gajahmada

  
Patung Gajah Mada
 Kerajaan Majapahit  memiliki peranan yang sangat penting dalam sejarah Nusantara, di mana Majapahit adalah kerajaan besar yang sejarahnya mempersatukan Nusantara. Sumpah Amukti Palapa yang di deklarasikan oleh Mahapatih Gajahmada, sebagai buktinya. Lantaran hal tersebut sang patih  memiliki kepopuleran yang  mengalahkan raja Majapahit sendiri, Hayam Wuruk.  


Keberadaan seorang tokoh siapapun tentu ada asal-usulnya, tidak lantas ujug-ujung terus ada. Pun, seorang Gajah Mada yang akan kita bincang pada kesempatan kali ini. Sayangnya, asal-usul Mahapatih yang terkenal dengan sumpah palapa-nya ini tidak jelas, sangat misterius. Semisterius kematiannya.

Belum ada satu sumber pun yang dapat dijadikan rujukan untuk mengetahui asal Gajah Mada dan siapa orang tuanya secara pasti. Para sejarawan masih bersilang pendapat tentang asal usulnya. Ada yang menyebut Gajah Mada berasal dari Sumatera, tepatnya dari Minangkabau dengan asumsi bahwa kata Mada itu di Minangkabau berarti bandel, sementara di Jawa tidak ada kata Mada dalam kosa kata bahasanya. Selain itu gelar Gajah juga diambil dari asal nama binatang yang berada di pulau Sumatera ini.

Sebagian lainnya menyebut Gajah Mada berasal dari Bali. Masyarakat Bali mempercayai cerita turun temurun yang menyebut bahwa ibu sang patih ini berasal dari Bali. Ada juga yang memperkirakan Gajah Mada berasal dari suku Dayak Krio di Kalimantan Barat, merujuk dari kisah nenek moyang suku Krio tentang seorang panglima besar Dayak bernama Panglima Jaga Mada yang diutus ke Jawa Dwipa untuk menguasai tanah Jawa.

Kemudian ada juga yang menyebut bahwa Gajah Mada itu berasal dari Mongol. Diperkirakan dia adalah salah satu pimpinan pasukan Mongol yang tertinggal. Ketika itu Raden Wijaya (pendiri Majapahit) mengalahkan pasukannya yang berniat menyerang Raja Kertanegara karena telah melecehkan Mongol dengan memotong telingan Meng Khi (utusan Mongol).

Selain beberapa asumsi di atas, yang tak kalah menariknya adalah klaim masyarakat Modo bahwa Gajah Mada berasal dari daerahnya. Modo sendiri adalah salah satu nama kecatamatan di kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Klaim ini tentu bukan tanpa alasan, hal ini didukung dengan peninggalan sejarah yang diklaim sebagai peninggalan Gajah Mada dan cerita tutur yang berkembang di masyarakat secara turun temurun. Nah, penasaran, mari kita menelusurinya?

Untuk mencapai kecamatan Modo yang sekaligus nama desa ini dari pusat kota Lamongan berjarak tak kurang dari 30-an kilometer ke arah barat. Sedangkan jika kisanak berada di Tuban agak lumayan jauh lagi, sekitar 50 kilometer arah selatan. Desa Modo ini terbilang subur karena berada di jajaran pegunungan Kendeng.

Baik, sebelum kita membicarakan tentang cerita tutur atau foklor tentang Gajah Mada di desa Modo ini, saya akan ajak kisanak untuk menengok sejenak peninggalan-peninggalan yang dicurigai sebagai peninggalan Gajah Mada.

Yang pertama adalah sebuah makam yang berada di sebuah bukit yang berada di Desa Cancing, Kecamatan Ngimbang, orang sekitar sering menyebutnya Makam Gunung Ratu. Meski dinamakan gunung sebenarnya adalah sebuah bukit semata yang menjulang tak lebih dari 100 meter.

Tepat di bukit yang dihampari pepohonan jati ini, ada satu cungkup makam Dewi Andong Sari yang diklaim sebagai ibunda dari Gajah Mada. Bangunan ini terbilang cukup terawat meski jauh dari pemukiman penduduk. Mulai dari sinilah cerita tutur itu bermula.

Di awal berdirinya Majapahit pada akhir abad 13 Masehi, di Desa Cancing ini konon kedatangan serombongan prajurit Majapahit yang mengiringkan selir Raden Wijaya yang sedang hamil, selir tersebut tak lain adalah Dewi Andong Sari yang di makamkan di gunung putri ini.

Rupa-rupanya, serombongan prajurit yang mengiring wanita hamil ini mendapat tugas rahasia untuk menyingkirkan (mungkin membununuh) Dewi Andong Sari atas perintah dari Dara Petak dan saudaranya yang bernama Dara Jingga, istri Raden Wijata, raja Majapahit. Alasan utamanya menyingkirkan selir raja pertama Majapahit ini karena khawatir kalau Dewi Andong Sari melahirkan anak laki-laki. Entah apa sebabnya, prajurit utusan tersebut tidak melakukan titah dari permaisuri raja tersebut, tidak tega barangkali untuk mengeksekusi Dewi Andong Sari.

Desa yang sekarang bernama Cancing ini dahulu dipimpin oleh Ki Gede Sidowayah yang konon adalah seorang ahli pusaka atau seorang Empu. Ki Sidowayah inilah yang menampung Andong Sari hingga melahirkan seorang bayi laki-laki. Sayangnya, tak lama setelah melahirkan Andong Sari meninggal dunia, maka kemudian si bayi mungil ini di bawah pengasuhan Ki Sidowayah.

Karena Ki Sidowayah ini adalah seorang wadat (tidak menikah) tentu baginya bukan perkara gampang untuk merawat bayi tersebut. Baginya lebih mudah membuat pusaka ampuh daripada mengurusi rewelnya bayi. Karenanya, bayi tersebut diserahkan adik perempuanya yang menjanda yang bernama Mbok Rondo Wura Wari yang tinggal di Desa Modo.

Berjalannya waktu, bayi tersebut tumbuh sehat dan kecerdasannya di atas rata-rata dibanding dengan pemuda di desanya, maka kemudian bayi yang telah beranjak remaja tersebut sering dipanggil dengan Joko Modo (pemuda Modo). Lazimnya anak kampung, Joko modo pun ikut membantu bekerja orang tua angkatnya yaitu sebagai penggembala kebo.

Karena kecakapanya Joko Modo oleh sesama teman pengembala dianggap sebagai pemimpin. Meskipun hanya sebagai pemimpin sekelompok anak gembala, ternyata bakat kepemimpinannya mulai nampak. Untuk memudahkan mengawasi kerbau-kerbau yang sedang digembala tersebut, Joko Modo dan kawan-kawan gembala lainnya naik diatas bukit kecil sehingga jarak pandangnya menjadi jauh dan luas. Bukit tersebut oleh masyarakat sekitar dinamakan Sitinggil atau tanah yang tinggi.

Makam Gajah Mada
Nah, pada saat Joko Modo diatas bukit sambil mengawasi kebo-kebonya inilah ia seringkali melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya. Hal ini logis karena letak Modo memang berada diantara Majapahit dan Tuban. Dari seringnya melihat iring-iringan prajurit Majapahit yang gagah-gagah tersebut membuat hati Joko Modo tertarik,  semenjak itu dalam benaknya tertanam kuat kelak suatu saat ia akan menjadi prajurit Majapahit juga.

Sebagai Empu pusaka yang linuwih, dan konon pernah berjasa pada kerajaan Majapahit, pada suatu ketika Ki Gede Sidowayah diberi anugerah tanah perdikan di Songgoriti Malang. Ki Sidowayah tidak lupa mengajak  pula Joko Modo ke Songgoriti, dengan pertimbangan agar jiwa, sikap, serta cara berpikir Joko Modo yang cerdas dan cakap bila berkembang  dengan baik.

Singkat cerita, karena kecapakan dan kepandaiannya tersebut dan didukung oleh pengaruh ayah angkatnya, Ki Gede Sidowayah maka Joko Modo akhirnya tercapai cita-citanya yaitu menjadi prajurit Majapahit. dari sini tentu saja kita semua tahu Gajah Mada yang di kemudian hari kariernya terus menanjak sehingga menjadi Mahapatih Majapahit dan menjadi orang pertama yang mempersatukan nusantara ini. Demikian cerita rakyat yang berkembang di daerah Modo ini.

Sebagai pendukung kebenaran klaim dan cerita tutur tersebut, ada beberapa argumen yang memperkuat bahwa Gajah Mada terlahir di Modo, Lamongan, Jawa Timur. Seperti apa, monggo disimak!

Pertama, peristiwa konspirasi pemufakatan jahat Dara Petak terhadap Andong Sari. Seperti yang sudah saya narasikan di atas, Dewi Andong Sari adalah selir Raden Wijaya yang ketika itu dalam keadaan hamil, sangat mungkin penyingkiran ini atas inisiatif Dara Petak, seorang putri Melayu dari hasil pampasan perang yang di bawa oleh Kebo Anabrang saat ekspedisi Pamalayu Singosari. Sayangnya saat membawa kemenangan dari eksepedisi tersebut, Singosari runtuh oleh konpirasi Wijaya dan prajutit Tar-tar utusan Khubilai Khan dari imperium Mongol.

Wijaya dari Dara Petak memperoleh anak laki-laki yang diberi nama Kalagemet (Jayanegara) tahun 1294. Tentu hal ini membuat  Dara Petak bungah, karena anak Wijaya dari istri yang lainya kesemuanya adalah perempuan, yaitu ; Dyah Tribuwana Tungga Dewi dan Dyah Wiyat Sri Raja Dewi. Artinya satu kaki sudah menapak tahta Majapahit, tinggal menunggu mangkatnya Wijaya.

Satu-satunya halangan adalah dari selir Wijaya yang bernama Dewi Andong Sari yang sedang hamil, kekhawatiran inilah yang melatari konspirasi jahat Dara Petak untuk menyingkirkannya. Ketakutan Dara Petak ini beralasan, jika Andong Sari melahirkan anak laki-laki tentu akan mempersulitkannya mengantarkan anaknya menjadi penerus Wijaya. Maka, tidak ada pilihan lain, Andong Sari harus dilenyapkan.

Kedua, jika ditinjau dari segi geografis, posisi Cancing, Ngimbang, ini dengan Trowulan jika misal kita tarik garis lurus, hanya berjarak tak lebih dari 35 kilometer saja. Suatu jarak yang logis sebagai jalur pembuangan (karena tidak dibunuh) Andong Sari.  
Joko Modo sering melihat iring-iringan prajurit Majapahit menuju Tuban atau sebaliknya, itu sangat masuk akal sebab Modo memang terletak diantara  jalur Majapahit dengan Tuban.

Ketiga, Pada saat pemberontakan Ra Kuti (1319) Gajah Mada yang saat itu menjadi kepala pasukan Bhayangkara menyelamatkan Raja Jayanegara dengan sembunyi di Desa Bedander. Para sejarawan banyak yang menduga bahwa Bedander yang dimaksud itu adalah Dander di Bojonegoro, padahal tidak. Sebab ada lagi nama desa yang namanya persis seperti yang disebut dalam Negarakertagama yaitu Badander (buah dander) yang berada di kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Jarak antara Desa Bedander dengan Cancing, Ngimbang hanya  10 kilometer, sedang jarak Badander-Trowulan 25 kilometer, sehingga sangat mungkin yang dimaksud Desa Bedander tempat persembunyian  Jayanegara kerena adanya pemberotakan Ra Kuti adalah Bedander tersebut (bukan Dander Bojonegoro).

Suatu kebiasaan jaman dahulu, jika ada ontran-ontran (kerusuhan) di kotapraja (ibukota) maka para pembesar  kerajaan berusaha menyelamatan diri ke daerah asalnya yaitu daerah dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Dengan pertimbangan ia tentu mendapat dukungan dan perlindungan dari masyarakat sekitarnya, disamping juga menguasai medan sehingga banyak membantu untuk perjuangan berikutnya.
Makam Gunung Ratu

Demikian halnya dengan Gajah Mada, sangat dimungkinkan ia tidak sengaja sembunyi di Desa Badander melainkan ke Desa Cancing (Ngimbang) tempat ia berasal. Tapi karena kondisinya pada saat itu tidak memungkinkan disamping letak Badander dengan Ngimbang sangat dekat apalagi adanya jaminan perlindungan dari Ki Buyut Badander, maka dipilihnya Bedander sebagai tempat persembunyian sementara sambil menyusun siasat untuk merebut kembali tahta kerajaan dari pemberontak  Ra Kuti.

Keempat, Ki Gede Sidowayah mendapat anugerah dari Wijaya yakni tanah perdikan di Songgoriti Malang. Hal ini jaman dahulu adalah memang hal yang lumrah, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan dedikasi seseorang yang berjasa pada kerajaan atau kerajaan.

Ada dua kemungkinan Ki Gede Sidowayah mendapat tanah perdikan di Songgoriti yaitu: Sebagai seorang Empu mungkin Ki Gede Sidowayah pernah membuat sejenis pusaka yang ampuh untuk Raden Wijaya. Tapi kemungkinan ini lemah, sebab diantara banyak  pusaka peninggalan Majapahit tidak dikenal buatan Mpu Sidowayah. Disamping itu dalam sejarah  belum pernah ada seseorang mendapat hadiah tanah perdikan hanya karena berjasa membuat pusaka untuk raja.

Asumsi kedua, bisa jadi karena Ki Gede Sidowayah berjasa besar yaitu menyelamatkan selir Wijaya yang sedang mengandung hingga melahirkan dengan selamat. Untuk menjaga kerahasiaan tersebut Ki Gede Sidowayah diberi tanah perdikan yang letaknya sangat jauh dari Lamongan yaitu di Songgoriti Malang. Sebab jika diketahui bahwa Wijaya punya anak laki-laki selain Kalagamet, maka bisa timbul masalah besar dalam proses pergantian raja sepeninggal Wijaya nanti. Sepertinya, asumsi kedua inilah yang agaknya lebih mendekati kebenaran.

Kelima. Peristiwa Ra Tanca tahun 1.328 M (bhasmi bhuto nangani ratu = 1250 C). Dalam  Pararaton disebutkan "...selama Ra Tanca menjalankan tugas pengobatan terhadap raja Jayanegara, Gajah Mada mengawasinya, begitu  Tanca membunuh Jayanegara maka Gajah Mada langsung membunuh Ra Tanca".

Dalam Pararaton tersebut secara eksplisit mengatakan kalau Jayanegara meninggal karena dibunuh oleh Ra Tanca, kemudian Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan. Dalam sejarah terkait ini, banyak sejarawan sepakat alasan Ra Tanca membunuh Jayanegara karena sakit hati sebab istrinya pernah diselingkuhi oleh Jayanegara.

Pertanyaannya, mengapa Ra Tanca langsung dibunuh  oleh Gaja Mada tanpa proses pengadilan? Dan tak ada seorang pun mempermasalahkannya?

Jika kita menilik cerita tutur masyarakat Ngimbang tentang Joko Modo, sangat mungkin bahwa peristiwa pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca adalah hasil skenario Gajah Mada sendiri. Sebab ibunya Gajah Mada, Dewi Andong Sari dileyapkan dari istana oleh ibunda Jayanegara yaitu Dara Petak. Peristiwa itu tentu sangat menyakitkan hati Gajah Mada, sehingga timbullah niat balas dendam yaitu melenyapkan Jayanegara melalui tangan Ra Tanca, setelah itu Ra Tanca langsung dibunuhnya untuk menutup rahasia itu selamanya.

Keenam. Peristiwa Bubat tahun 1357 M (Sanga Turangga Paksa Wani = 1279 C).  Peristiwa ini terjadi di lapangan Bubat karenanya kemudian dinamakan perang Bubat dan terjadi tahun 1256  C /tahun 1357 M (Sanga Turangga Paksa Wani). Peristiwa Bubat ini jelas kesalahan besar Gajah Mada, akibat tindakan Gajah Mada tersebut tidak saja berakibat gagalnya pernikahan Hayam Wuruk tapi juga meninggalnya calon permaisuri Diyah Pitaloka beserta keluarga pengiringnya.

Karena kesalahan ini kemudian Gajah Mada diberi sanksi yaitu dibebas tugaskan selama dua tahun (1357-1359). Pertanyaannya, mengapa kesalahan Gajah Mada yang begitu besar terhadap raja hanya mendapat hukuman ringan? Mengapa pula Gajah Mada terlibat begitu dalam urusan pernikahan Hayam Wuruk? Banyak kemungkinan untuk menjawabnya.

Namun bisa jadi, Hayam Wuruk merasa segan dengan Gajah Mada sebab mahapatihnya ini adalah pamannya sendiri. Hal ini terjadi karena Gajah Mada adalah adik ibunda Hayam Wuruk (Diyah Tribhuwana Tungga Dewi) satu ayah lain ibu. Gajah Mada anak  Wijaya dari istri selir Dewi Andong Sari.

Ketujuh. Gajah Mada tidak mau kudeta terhadap kekuasaan Hayam Wuruk. Pada saat Hayam Wuruk dinobatkan sebagai Raja, ia baru berusia 17 tahun. Segala urusan pemerintahan diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada. Bahkan sejak masa pemerintahan ibunda Hayam Wuruk yaitu Tribhuwana Tungga Dewi urusan pemerintahan seolah diserahkan sepenuhnya kepada Gajah Mada.


Tonggak Gajah Mada
Keadaan seperti itu sangat memungkinkan jika Gajah Madam mau kudeta, dalam arti Gajah Mada mau kudeta maka tidak akan ada hambatan yang berarti. Lalu timbul pertanyaan mengapa Gajah Mada tidak melakukan kudeta? banyak kemungkinan untuk menjawab, diantaranya jawaban itu ialah, "karena Hayam Wuruk masih keponakan Gajah Mada sendiri".

 Tapi hal  ini hanyalah asumsi dan semua terserah Anda semua meletaknnya dimana, mempercayainya atau bahkan mencibirnya. Ini adalah wacana menukil Gajah Mada dari sudut yang lain dari sejarah yang pernah tertulis sejauh ini.

Bahkan, akhir hidup Gajah Mada juga tidak jelas.Gajah Mada tidak diketahui mempunyai istri dan keturunan. Tidak diketahui juga bagaimana dia mangkat, dimana dikebumikan dan dimana ia menghabiskan sisa hidupnya setelah tidak menjadi Mahapatih.Tidak ada satu pun candi yang didirikan untuk mengenang dirinya. Meski banyak prediksi dan perkiraan tentang makam Gajah Mada, petilasan dan lain sebagainya, tapi ini belum juga bisa dibuktikan secara ilmiah. Tokoh besar ini masih menjadi salah satu misteri besar bangsa ini.  




MNC WORLD NEWS
Glimpse From The Past – Indonesia’s Urban Legend
(Ki Cokro ST)

Tragedi Memilukan Dibalik Keris Nogososro

Keris Nogososro
Berdasarkan kepercayaan sebahagian orang Jawa dan masih lestari hingga kini, seorang pemimpin tidak akan kuat menduduki kursinya bila tanpa didukung piandel dan pusaka-pusaka sakti. Sejauh mana kebenaran dari kepercayaan ini?

Bagi kebanyakan masyarakat di Indonesia, khususnya Jawa, ini bukan hal aneh lagi. Kepercayaan yang tidak diketahui sejak kapan berlaku itu dianggap suatu keharusan bagi setiap pemimpin bila tak ingin tahtanya segera jatuh. Yang pasti, ini bukan hanya cerita para raja dan sultan di masa lalu, tetapi para elit politik sekarang pun masih banyak yang mempercayai kekuatan atau tuah pusaka-pusaka sakti dengan berbagai bentuknya.

Ada yang meyakini, bahwa pusaka tersakti yang bisa membantu melenggangkan kekuasaan setingkat pimpinan negara atau presiden adalah Keris Nogososro Keris sakti di Tanah Jawa, yang digambarkan bisa menaklukkan jagat kahyangan bila dia mengamuk. Tak heran, meski zaman sudah sedigital ini masih
  ba­nyak politikus yang datang ke orang pintar demi memburu pusaka ini dengan biaya, syarat, dan resiko apapun. Bahkan, ada yang berani membeli dengan harga miliaran rupiah atau menukar dengan berkilo-kilo gram emas, namun kenyataannya, tak mudah untuk menemukan pusaka keris Nogososro yang asli. Keris ini tetap misterius keberadaannya.

Keris Nogososro memang memiliki latar belakang politik yang kental, terutama dalam hubungannya dengan suksesi kepemimpinan kesultanan Demak Bintoro di masa silam. Dalam riwayatnya, keris Nogososro merupakan pesanan dari Sultan Trenggono untuk menentukan calon penggantinya. Karena ada trah keturunan yang dipandang memiliki kapabilitas dan akseptabilitas yang sama untuk menduduki kursi kepemimpinan setelah dia wafat.

Dalam sejarah dinyatakan bahwa dua trah kesultanan Demak yang memiliki peluang untuk menjadi pemimpin pasca Sul­tan Trenggono yakni trah Sidolepen yang diawali oleh Aryo Penangsang, dan trah Trenggono. Kedua trah tersebut sesungguhnya adalah masih bersaudara.
Berawal dari persoalan itu, maka para wali mengusulkan kepada Sultan Trenggono untuk memesan keris Nogososro, sebagai pusaka andalan sekaligus sebagai me­dia sayembara, yang kira-kira berisi: "Siapa yang mampu memegang atau menguasai keris tersebut, dialah yang berhak mendu­duki tahta."
Ternyata sayembara itu dimenangkan oleh Joko Tingkir atau Hadiwijoyo, anak angkat Sultan Trenggono. Sejak saat itu, keris Nogososro menjadi legenda masya­rakat.

Menurut riwayat, pusaka ini sempat hilang dari keraton dan menjadi rebutan para pendekar Tanah Jawa. Akibat hilang keris Nogososro pada waktu itu di seluruh kerajaan Demak Bintoro goncang. Pasalnya, kraton khawatir pusaka yang sangat ampuh itu ja­tuh ke tangan orang yang tidak bertanggungjawab. Namun untungnya, atas upaya salah seorang punggawa kerajaan Demak yang terkenal sakti dan berbudi luhur, pusaka tersebut dapat ditemukan kembali.

Orang yang berjasa besar itu bernama Mahesa Jenar, yang merupakan saudara seperguruan Kebo Kenongo atau Ki Ageng Pengging, sekaligus murid kinasih pangeran Hanyaningrat. Dalam satu riwayat, pusaka Nogososro biasanya selalu disandingkan dengan dua keris lagi yakni, Sabuk Inten dan Sengkelat, Sabuk Inten untuk kewibawaan, sedang Sengkelat untuk kamukten.

Namun dari sekian keris yang ada, keampuhan Nogososro tak ada yang mampu menandinginya. Dengan sawabnya, keampuhan pusaka yang lain dapat tertindih, bahkan hilang sama sekali.

Asal usul Keris Nogososro, diriwayatkan keris No­gososro dibuat oleh Empu Supo Mandrani, yang hidup pada zaman kerajaan Majapahit. Tetapi versi lain menyebutkan bahwa pusaka ini, sesuai dengan namanya, tercipta dari lidah sesosok makhluk berbentuk ular naga yang sangat sakti. Namanya, No­gososro.

Alkisah, Pada zaman dahulu, seorang lelaki sakti mandraguna bernama Manggir terbang menggunakan selembar tikar permadani meninggalkan tanah kelahirannya dari Baqhdad. Dia berniat melakukan perjalanan menuju sebuah pulau yang terbuat dari reruntuhan gunung Himalaya dan ber­bentuk seperti naga. Pulau tersebut tak lain dan tak bukan adalah pulau Jawa.
Kedatangan Manggir di pulau Jawa bersamaan dengan turunnya patung Al-Atha dari India. Kedatangan patung ini diiringi awan kemupus dan kelompok orang yang memujanya. Dan bersamaan pula dengan itu, terjadi peristiwa alam yaitu gerhana matahari total.

Setelah beberapa lama tinggal di pulau Jawa, Manggir dihadapkan pada suatu kenyataan bahwa di tempat yang baru ini terdapat banyak sekali gunung berapi, yang kapan saja bisa meletus dan membinasakan penduduknya. Karena itulah Manggir bermaksud untuk melakukan tapa brata, de­ngan tujuan mendinginkan gunung berapi yang ada di pulau ini.

"Aku akan pergi ke salah satu gunung berapi di pulau ini untuk bertapa. Bila sekiranya ada keturunanku yang ingin bertemu, suruh dia mencariku ke sana," pesan Manggir kepada Ratu Perangin angin, isterinya.
Seorang pun tak ada yang mengetahui, di gunung berapi yang mana sebenarnya Manggir bertapa. Sebab di tanah Jawa ini, gu­nung berapi ada puluhan jumlahnya. Karena itu, hingga kini tetap misterius.
Dikisahkan, Manggir bertapa sampai ratusan tahun lamanva sampai mimpikan, dia dapat mengirimkan rohnya untuk sesekali menggauli isterinya, sehingga sua­tu ketika, Ratu Perangin-angin mengandung.
"Jika suamiku menguasai gunung dan daratan, sedangkan aku penguasa Laut Selatan, semoga anakku berkuasa atas keduanya," doa Ratu pada suatu hari sambil mengelus-elus perutnya yang sedang hamil besar.
Ketika lahir, ternyata anak yang dikandung Ratu bentuk fisiknya bak ular naga. Tak hanya itu, perkembangan tubuh si anak juga begitu cepat, sehingga dalam waktu yang relatif singkat telah menjelma menjadi seekor naga raksasa yang sangat ganas. Se­suai dengan keadaannya, si anak diberi nama Nogososro.
Dikisahkan, apabila Nogososro berjalan atau merayap, maka langkahnya menggetarkan permukaan bumi dan mengakibatkan banyak gunung terancam meletus.
Sampailah pada suatu hari Nogososro bertanya kepada ibunya, "Hai lbuku, tunjukkan di mana gerangan ayahku berada? Mengapa aku tidak seperti manusia biasa, sehingga tak seorangpun makhluk yang mau bergaul denganku? Aku akan mencari ayah dan meminta padanya agar tubuhku dirubah seperti manusia biasa."

Ratu Perangin-angin tak dapat menjawab, karena dia sendiri merasa bahwa hal itu di luar kehendak dirinya. Dia sendiri tak dapat menjelaskan di mana keberadaan ayah dari anaknya, sebab dia tak tahu di gunung mana suaminya bertapa.
Karena jawaban sang ibu, akhirnya No­gososro dengan membawa perasaan yang sangat pilu, pergi mencari ayahnya. Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia mene­mukan ayah yang dicarinya di sebuah gu­nung berapi di tepi pantai.

Melihat sosok anaknya, Manggir terkejut bukan kepalang. Namun bersamaan de­ngan itu, tiba-tiba kini terbuka olehnya tentang siapa Ratu Perangin-angin sebenarnya.
Wanita berparas jelita itu ternyata jelmaan dari Patung Al-Atha. Manggir baru menyadari bahwa telah mengambil langkah keliru, mencampurkan yang gaib dan yang kasar, dan yang putih dengan yang hitam.
Dan yang terjadi kini adalah suatu ancaman baru bagi seluruh penduduk pulau Jawa di masa mendatang. Ya, Nogososro adalah sumber dari ancaman itu.

Karena merasa sangat malu, Manggir enggan mengakui Nogososro sebagai anaknya. Namun dia tidak secara terang-terangan menyatakan hal itu, melainkan dengan sebuah taktik. Disuruhnya Nogo­sosro melilitkan tubuhnya ke sekeliling gu­nung tempatnya bertapa. Dengan pesan, apabila ekornya bisa menyentuh kepalanya, maka dia akan diakui sebagai anaknya.
Kenyataannya, kepala dan ekor Nogo­sosro tidak bisa saling menyentuh, meskipun sebahagian tubuhnya telah masuk ke dalam gunung karena kuatnya dia melilit.

Sambil menitikkan air mata, Nogosoro lalu menjulurkan lidahnya agar dapat mencapai ekor. Usahanya ini berhasil. Tetapi Manggir tidak bisa menerima kenyataan itu. Dia menganggap bahwa Nogososro te­lah berbuat curang. Manggir mencabut kerisnya, kemudian membabat lidah anaknya. Apa yang terjadi?
Sungguh luar biasa! Lidah Nogososro yang terputus mengeluarkan api seperti petir yang sangat dahsyat. Seketika Pulau Ja­wa bergoncang dengan hebatnya. Akibatnya, bagian timur pulau Jawa terputus-putus menjadi pulau-pulau kecil. Dan pulau Ja­wa yang tadinya berbentuk mirip seekor ular naga, kini berubah menjadi seperti harimau.

Seiring dengan itu, Nogososro yang sa­ngat terkejut dengan tindakan ayahnya yang telah memutuskan lidahnya, serta merta mencengkeram lereng gunung sekuat-kuatnya sambil menahan amarah dan rasa sakit. Akibatnya, gunung tempat Manggir melakukan tapabrata meletus de­ngan teramat dahsyat.
Begitu dahsyatnya letusan tersebut se­hingga seluruh puncak gunung serta dasarnya terlempar ke Laut Selatan, dan lubang bekasnya kemudian terisi air laut, membentuk sebuah teluk dengan kedalaman lebih dari 5 km. Teluk itu yang kemudian dikenal dengan nama Teluk Pelabuhan Ratu.

Sementara itu Manggir dan Nogososro, keduanya sempat terpental ke angkasa. Na­mun karena kesaktian mereka tak ada yang mengalami cidera walau sedikitpun. Meskipun demikian, karena mereka lebur bersama lahar dan batu, kini tubuh ayah dan anak itu berubah wujud secara total. Manggir rnenjel­ma menjadi patung batu, yang terkadang berpindah tempat dari satu gunung ke gunung yang lain.
Keris Nogososro
Sementara itu, Nogososro yang tubuh­nya sangat besar dan panjang, menjadi naga batu yang terbentang hingga saat ini. Demikian pula tangannya yang menceng­keram gunung berapi tempat Manggir ber­tapa, sampai sekarang masih bisa dilihat.

Dengan adanya perubahan wujud terse­but, bahaya dari tangan kanan Nogososro memang telah berlalu. Tetapi bahaya dari li­dahnya yang terputus, masih mempengaruhi manusia sampai saat ini. Konon, lidah yang putus tersebut turun bersama petir Liwe Muser, tempat pertemuan lima buah sungai. Aki­batnya di tempat itu rnenjelma lubuk yang dalamnya mencapai lima batang bambu le­bih. Sementara tanah disekitar sungai rekah-rekah, membentuk lima buah goa.

Di tempat itulah lidah Nogososro ber­ubah menjadi sebilah keris berbentuk lidah naga, terbuat dari logam yang tidak dikenal oleh siapapun. Untuk mengamankan lidah Nogososro, Manggir yang masih bertapa di atas punggung anaknya yang telah men­jadi gunung batu di Pelabuhan Ratu, terus memanjatkan doa. Dia berharap selalu ada orang yang mengiring jalannya lidah ter­sebut. Dan dapat menghentikan akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya.

Kata seorang ahli supranatural, bila sua­tu saat kita melakukan rekreasi ke Pelabuh­an Ratu, jangan lupa memandang ke pun­cak gunung Jayanti. Katanya, itu sebenar­nya adalah kepala Nogososro.

Bila kerabat akarasa ingin melihat tangan kanan sang naga, bisa datang ke Goa Gedong Manik Taman Srimegan dari Patugurun. Adapun tempat putusnya lidah Nogososro, tepat di Sungai Cimandiri sekarang, di suatu tempat yang disebut Bagbagan.

Dari kedua versi kisah di atas, tentang asal-usul keris Nogososro, manakah yang benar? Entahlah! Yang jelas, pusaka Nogo­sosro hingga sekarang banyak diburu orang, terutama para pejabat. Tetapi, tentu saja tak sembarang orang yang dapat memilikinya. Bahkan kabarnya, pusaka ini ha­nya bisa diperoleh oleh mereka yang benar-benar berjodoh untuk memilikinya.

Bung Karno adalah tokoh yang disebut-sebut pernah memiliki keris Nogososro. De­mikian pula halnya dengan Soeharto. Konon, mereka dapat memiliki keris sakti tersebut setelah melakukan suatu ritual yang sangat berat. Benarkah kisah ini? Se­kali lagi, semuanya masih menjadi teka-teki yang sulit dicarikan jawabannya.