Prosesi Baiad Gemblengan Daya Karomah Sapujagad, Oleh Tokoh Spiritual Indonesia Gus Cokro ST
https://www.youtube.com/watch?v=dylKYL0Peg0
https://www.youtube.com/watch?v=gVBVNW1yltE
https://www.youtube.com/watch?v=F1KQ17-6nZU
Selasa, 10 Oktober 2017
Rabu, 06 September 2017
Mengulik Kekeramatan Gua Lawah, Bali
Bagi anda pecinta
wisata,tentunya tidak asing lagi dengn sebutan Gua Lawah di Bali. Goa ini
begitu menakjubkan dengan adanya pura di bagian depan, namun juga menyimpan
misteri yang kerap dihubung-hubungkan dengan mitos atau legenda tertentu. Ada
yang menyebut Goa Lawah sebagai salah satu tempat keramat di Bali karena
kemisteriusannya tersebut.
Ketika memasuki Goa
Lawah, Anda akan melihat ada banyak kelelawar yang bergelantungan di sana. Jadi
rasanya wajar jika goa misterius disebut sebagai Goa Lawah di
mana ‘Lawah’ merujuk pada kelelawar dalam bahasa Indonesia. Kelelawar-kelelawar
tersebut juga dilindungi sehingga siapapun dilarang untuk menangkap ataupun
memburunya. Jika memperhatikan relief yang ada di bagian gerbang, Anda akan
melihat simbol kelelawar yang diyakini ada kaitannya dengan kedudukannya di goa
tersebut.
Legenda lokal yang
menyertai goa ini adalah keberadaan sungai yang diyakini dapat menyembuhkan
berbagai macam penyakit. Tidak hanya itu, Goa Lawah juga erat kaitannya dengan
Pura Besakih yang berada di lereng Gunung Agung, Bali. Bahkan disebut-sebut
dulu pernah ada lorong yang menghubungkan Goa Lawah dengan Pura Besakih
sepanjang 30 kilometer. Namun sayang, karena pernah terjadi gempa besar, lorong
penghubung tersebut runtuh.
Masyarat Hindu di Bali
mengatakan bahwa Goa Lawah merupakan perlambang kepala Naga Basuki dengan
badannya dan ekornya yang berakhir di kompleks Pura Besakih. Naga Basuki
sendiri memiliki arti tersendiri dalam mitologi Hindu yaitu dari 3 naga
jelmaan, Naga Basuki merupakan salah satunya dan sengaja diturunkan oleh dewa
untuk menyelamatkan bumi.
Oleh karena itu, ketika Anda datang ke Goa Lawah, janganlah berperilaku tidak
sopan atau berkata kasar. Keramatnya lokasi ini tentu bisa saja membuat
‘penghuni’ di dalamnya marah dan memperlakukan Anda sama tak sopannya. Karena
begitu sucinya tempat ini, tiap kali selesai mengadakan Upacara Ngaben, umat
Hindu harus ke Pura Goa Lawah dan juga Pura Besakih untuk
bersembahyang.
Napak Tilas Kejayaan Mataram
![]() |
| Cepuri Parangkusumo |
Tahun 1584. Sesaat setelah Ki Ageng Pemanahan
meninggal, Ki Juru Martani menghadap Sultan Hadiwijaya, untuk memilih siapa di
antara enam putra pemanahan yang akan diangkat sebagai penerus kerajaan Mataram
yang baru saja dikembangkan saat babad alas mentaok. Ki Ageng Pemanahan adalah
keturunan Majapahit dari garis ayah dan keturunan Nabi Muhammad dari garis ibu.
Sementara Ki Juru Martani adalah ipar dan penasehatnya.
Sultan Hadiwijaya kemudian memilih Danang Sutawijaya, putra sulung Pemanahan dan diberi gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Sementara Ki Juru Mertani diserahi tugas untuk menjadi penasehat Mataram dengan gelar Adipati Mandaraka. Keduanya diizinkan untuk tidak usah sowan ke Pajang selama satu tahun agar dapat konsentrasi membangun Mataram. “Kalau sudah setahun, datanglah kemari jangan terlambat,” titah Sultan Hadiwijaya.
Setelah diangkat tersebut, itu berarti Sutawijaya yang sudah bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo alias Panembahan Senopati adalah Raja Pertama Mataram. Setahun lamanya, Panembahan Senopati menata sedikit demi sedikit kerajaan baru tersebut sehingga tiba saatnya dia sowan ke Pajang (eks Demak) sebagai tanda “ngabekti”nya Mataram ke Pajang. Namun, karena alasan khusus Sang Panembahan Senopati enggan sowan ke Pajang. Sultan Hadiwijaya pun mulai curiga dan mengirim utusan terpercaya Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta untuk mencermati perkembangan Mataram.
Meskipun sebagai utusan Raja, dua Ngabehi ini tetap andap asor dan turun dari kuda lebih dulu ketika menemui Panembahan Senopati yang tetap duduk di punggung kuda. Kalau dilihat dari segi etika, hal ini tentu tidak pantas dan menunjukkan sikap merendahkan bahkan menantang tidak hanya utusan itu tetapi juga yang mengutus. Dengan sopan, utusan Pajang menyampaikan amanat Sultan Hadiwijaya bahwa Panembahan Senopati segera sowan menghadap ke Pajang, tidak mengadakan jamuan pesta dan tidak berambut gondrong.
Tetap duduk di punggung kuda, Panembahan Senopati menjawab, “Sampaikan kepada Kanjeng Sultan, saya tidak akan menghentikan pesta karena saya masih suka, saya disuruh cukur lha wong ini rambut-rambut saya sendiri. Saya diisurun menghadap ke Pajang ya mau saja asalkan Sultan menghentikan kesukaannya mengambil isteri para abdinya,.”
Dua utusan Pajang itu pun pulang dan melaporkan sebagai berikut bahwa Panembahan Senopati segera menghadap dan baik-baik saja. Soal Mataram sedang membangun tembok mengelilingi kerajaan dan sikap serta ucapan menantang Raja Pajang tidak mereka laporkan.
Semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan jalan dan kehendak sejarah…
Panembahan Senopati adalah sosok yang pandai menyerap energi kekuasaan dan kekuatan alam semesta demi membangun kerajaan Mataram. Mulai dari membina hubungan dengan penguasa Kedu dan Bagelen di sisi barat Mataram. Termasuk membangun kesatrian yang berhasil memiliki 1000 tentara pilih tanding dalam olah perang. Melihat gelagat egoisme Panembahan Senopati yang berlebihan ini, Ki Juru Martani menegur dan memberikan nasehat:
Sultan Hadiwijaya kemudian memilih Danang Sutawijaya, putra sulung Pemanahan dan diberi gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Sementara Ki Juru Mertani diserahi tugas untuk menjadi penasehat Mataram dengan gelar Adipati Mandaraka. Keduanya diizinkan untuk tidak usah sowan ke Pajang selama satu tahun agar dapat konsentrasi membangun Mataram. “Kalau sudah setahun, datanglah kemari jangan terlambat,” titah Sultan Hadiwijaya.
Setelah diangkat tersebut, itu berarti Sutawijaya yang sudah bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo alias Panembahan Senopati adalah Raja Pertama Mataram. Setahun lamanya, Panembahan Senopati menata sedikit demi sedikit kerajaan baru tersebut sehingga tiba saatnya dia sowan ke Pajang (eks Demak) sebagai tanda “ngabekti”nya Mataram ke Pajang. Namun, karena alasan khusus Sang Panembahan Senopati enggan sowan ke Pajang. Sultan Hadiwijaya pun mulai curiga dan mengirim utusan terpercaya Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta untuk mencermati perkembangan Mataram.
Meskipun sebagai utusan Raja, dua Ngabehi ini tetap andap asor dan turun dari kuda lebih dulu ketika menemui Panembahan Senopati yang tetap duduk di punggung kuda. Kalau dilihat dari segi etika, hal ini tentu tidak pantas dan menunjukkan sikap merendahkan bahkan menantang tidak hanya utusan itu tetapi juga yang mengutus. Dengan sopan, utusan Pajang menyampaikan amanat Sultan Hadiwijaya bahwa Panembahan Senopati segera sowan menghadap ke Pajang, tidak mengadakan jamuan pesta dan tidak berambut gondrong.
Tetap duduk di punggung kuda, Panembahan Senopati menjawab, “Sampaikan kepada Kanjeng Sultan, saya tidak akan menghentikan pesta karena saya masih suka, saya disuruh cukur lha wong ini rambut-rambut saya sendiri. Saya diisurun menghadap ke Pajang ya mau saja asalkan Sultan menghentikan kesukaannya mengambil isteri para abdinya,.”
Dua utusan Pajang itu pun pulang dan melaporkan sebagai berikut bahwa Panembahan Senopati segera menghadap dan baik-baik saja. Soal Mataram sedang membangun tembok mengelilingi kerajaan dan sikap serta ucapan menantang Raja Pajang tidak mereka laporkan.
Semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan jalan dan kehendak sejarah…
Panembahan Senopati adalah sosok yang pandai menyerap energi kekuasaan dan kekuatan alam semesta demi membangun kerajaan Mataram. Mulai dari membina hubungan dengan penguasa Kedu dan Bagelen di sisi barat Mataram. Termasuk membangun kesatrian yang berhasil memiliki 1000 tentara pilih tanding dalam olah perang. Melihat gelagat egoisme Panembahan Senopati yang berlebihan ini, Ki Juru Martani menegur dan memberikan nasehat:
“Ada tiga kesalahan yang kamu buat ngger… Kamu
memusuhi Raja Pajang Kanjeng Sultan yang tak lain orang tua dan gurumu. Saya
malu karena kita yang ada di kerajaan Mataram sepertinya tidak tahu membalas
budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati
dan kita bangun ini? Saya minta ngger, sekarang mintalah kepada Allah dengan
teguh agar nanti bila Kanjeng Sultan sudah wafat, kamu bisa menggantikan
keratonnya. Tapi sekarang jangan sekali-kali memusuhi beliau. Justeru
sebaliknya, balaslah kebaikannya agar batinnya rela nanti kamu yang
menggantikan kedudukannya sebagai raja”
Panembahan Senopati kemudian memenuhi petunjuk
Ki Juru Mertani. Ia kemudian berangkat ke Lipura untuk bertapa. Di sebuah
tempat sepi, dia melihat sebuah batu hitam mengkilat yang cucuk untuk dipakai
meditasi. Batu indah ini dikenal sebagai “Sela Gilang” dan di batu ini pula
Panembahan mendapatkan WAHYU KERATON, yaitu sebuah wisik gaib yang jelas dan
terang berbunyi: “KAMU AKAN MENJADI RAJA MATARAM SEJATI MENGALAHKAN PAJANG DAN
KERAJAAN-KERAJAAN LAIN, BEGITU JUGA DENGAN ANAK CUCUMU. TETAPI CICITMU KELAK
JUGA AKAN MENJADI AKHIR KERAJAAN MATARAM….”
Selesai bertapa, Panembahan Senopati menghadap Ki Juru Mertani dan Ki Juru mengatakan bahwa pekerjaan besar baru dimulai sekarang. Pekerjaan besar yang dimaksud Ki Juru adalah mencari dukungan kekuatan adikodrati dari alam gaib. Panembahan Senopati diminta pergi ke pantai segara kidul (laut selatan) dan Ki Juru sendiri pergi ke gunung Merapi.
Di mata seorang Ki Juru yang waskita ini, dua tempat ini dikuasai oleh sosok penguasa di alamnya masing-masing. Penguasa samudra yaitu Kanjeng Ratu Kidul dan penguasa gunung berapi yaitu Kyai Sapu Jagad dan kadang juga muncul sosok bernama Kanjeng Ratu sekar Kedhaton. Selain itu masih ada dua penguasa gaib lagi yang perlu untuk diminta bantuan agar kerajaan Mataram ini bisa kuat yaitu Kanjeng Sunan Lawu di timur kerajaan, dan Sang Hyang Pramoni dan di barat yang menguasai hutan Krendhawahana.
Sejak dulu, pantai Parangkusumo cukup dikenal kalangan mistikus. Pantai yang terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis yang kini ditandai dengan Bangunan Cepuri ini konon merupakan titik dimana pintu gerbang Kerajaan Gaib Segara Kidul berada. Bila anda melakukan meditasi di pinggir pantai menghadap ke laut maka di kejauhan akan tampak Pintu Gerbang Kerajaan Segara Kidul terbuat bahan berwarna emas dengan tinggi menjulang puluhan meter dari lautan. Jadi bentangan pantai dari barat ke timur adalah alun-alun Kerajaan Segara Kidul tersebut. Sebuah penampakan yang indah yang bisa dinikmati oleh para pejalan spiritual.
Tiba di pantai Parangkusumo, panembahan Senopati segera berjalan di bebatuan karang di pantai. Di sebuah batu kecil dan menonjol, dia duduk dan melakukan meditasi. Menyatukan semua pancaindera ke satu titik dan menata batin untuk berdoa agar Tuhan Semesta Alam berkenan memberikan bantuan.
Tuhan tentu saja punya puluhan, ratusan, jutaan, milyaran cara untuk membantu orang yang ingin ditolong-NYA. Salah satu cara itu adalah mengutus Kanjeng Ratu Kidul untuk menemui Panembahan Senopati. Sebagaimana hukum alam yang berlaku, bantuan dan pertolongan Tuhan ini pastilah ada kisah dan cerita uniknya.
Panembahan Senopati yang memang dikenal sakti ini memulai untuk bertapa. Laut selatan yang semula bergelombang alamiah tiba-tiba menampakkan keanehannya. Ombak laut bergulung-gulung semakin membesar. Dinginnya air laut selatan sedikit demi sedikit berubah menjadi panas hingga mendidih. Penghuni lautan pastilah terganggu. Ikan-ikan serta binatang laut lainnya banyak yang mati akibat panasnya energi spiritual yang terpancar dari batin Panembahan. Setiap Panembahan masuk ke lebih dalam wilayah “NING” atau keheningan dan satu kulit batin terkelupas maka satu kulit itu menjadi energi panas yang membakar alam sekitar. Proses yang alamiah terjadi itu hampir sama persis saat seseorang melakukan matek aji atau matek hizib dan mantra yang mengeluarkan hawa panas ke lingkungan sekitarnya.
Para prajurit dan punggawa kerajaan Segara Kidul kuwalahan membendung energi panas yang terpancar dari tubuh Panembahan Senopati. Segala kesaktian dan kekebalan ratusan ribuan makhluk halus ini tawar dan membuat tubuh mereka melemas. Cukup berbahaya bila tidak dilakukan pencegahan karena jagad lelembut dan jagad fisik laut selatan semakin banyak yang tewas. Di saat yang genting itu, muncullah Kanjeng Ratu Kidul.
Ternyata begitu melihat penyebabnya semua ini adalah Panembahan Senopati yang sedang “manekung” atau “maneges”, Kanjeng Ratu kemudian membangunkan kesadaran Panembahan Senopati. Setelah berdialog, lahirlah sebuah konsensus atau perjanjian gaib antar dua makhluk di dua dimensi yang berbeda ini. Perjanjian gaib itu berbunyi: KANJENG RATU KIDUL AKAN MENDUKUNG PENUH KEJAYAAN DAN KEMAKMURAN
Jadi dengan perjanjian tersebut, maka Para Raja Mataram sejak Panembahan Senopati hingga saat ini harus menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul dan setia dengan perjanjian ini. Pernikahan ini juga secara filosofis bisa diartikan sebagai kewajiban Raja-Raja Mataram untuk wajib nguri-uri atau memelihara adat istiadat dan budaya Jawa karena ini sudah merupakan perjanjian. Bila perjanjian ini dilanggar, maka Kanjeng Ratu Kidul berpesan dirinya tidak akan menjamin lagi keamanan dan kesejahteraan kerajaan Mataram. Sebab secara alamiah tanah Mataram memang terkenal tanah yang sesungguhnya menyimpan potensi bencana. Bencana gempa bumi akibat pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan bencana gunung berapi.
Setelah selesai bertemu dan mengadakan perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul maka Panembahan Senopati menyelesaikan meditasinya. Momentum selesainya meditasi sang Panembahan ini adalah datangnya Sunan Kalijaga yang mengijazahkan pusaka Kyai Tunggul Wulung untuk dimiliki Raja-Raja Mataram secara turun temurun. Sunan Kalijaga akhirnya berpesan kepada Panembahan Senopati jangan terlalu mengandalkan kesaktiannya. Tidak lupa berdoa dan ikhlas menyerahkan hasil usahanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bala bantuan pasukan gaib Kanjeng Ratu Kidul itu dalam sejarah benar-benar terbukti. Suatu ketika Kerajaan Pajang berkekuatan 10.000 orang yang dipimpin langsung Kanjeng Sultan Hadiwijaya menggempur kerajaan Mataram berkekuatan 1000 orang dipimpin Panembahan Senopati. Di wilayah Prambanan, kedua pasukan ini bertemu dan terjadilah peperangan yang berat sebelah.
Menyadari kekuatan pasukan Mataram yang kecil, Juru Martani mendapat wisik agar menabuh bende Ki Bicak. Bende ini peninggalan Ki Ageng Sela. (Bende ini pun ada sejarahnya. Konon sewaktu menanggap wayang dengan dalang Ki Bicak, Ki Ageng Sela jatuh hati pada isteri sang dalang. Ki Ageng kemudian membunuh Ki Bicak dan mengambil usteri serta gamelan termasuk bende. Menurut Sunan Kalijaga, bende itu nanti akan menjadi pusaka Keraton Mataram dan bila bende itu dibunyikan maka bunyinya menggelegar memenuhi angkasa dan penabuh akan menang perang.)
Suara Bende yang ditabuh menggelegar ini pula yang kemudian terdengar oleh Kanjeng Ratu Kidul. Itu tanda bahwa Mataram butuh bantuan sehingga Kanjeng Ratu beserta puluhan ribu bala bantuannya datang menyerang pasukan Pajang. Sementara penguasa gunung Merapi yaitu Kyai Sapu Jagad membuka kunci kawah gunung tersebut. Gunung Merapi meletus di tengah kegelapan, hujan lebat, banjir dan gempa bumi. Bala bantuan gaib yang berpadu dengan kekuatan alam yang hebat itulah yang membuat pasukan pajang berkekuatan lebih besar itu morat marit. Sultan Hadiwijaya sosok yang sakti mandraguna —yang mudanya disebut Jaka Tingkir dan punya guru sakti yaitu Ki Ageng Sela—ini pun harus terjatuh dari gajah tunggangannya dan harus melarikan diri dalam keadaan terluka yang parah.
Panembahan Senopati terus mengejar dengan 40 orang pasukan khususnya hingga masuk ke wilayah Pajang. Tahu kekuatan Panembahan yang tidak seberapa itu, pasukan Pajang yang dipimpin Benawa, anak Sultan Hadiwijaya segera siap melakukan penghadangan dan penumpasan. Namun Benawa diwejang sang ayah agar tidak membunuh Panembahan Senopati
“Jangan berani terhadap kakangmu (panembahan senopati), karena kalau aku sudah wafat maka kakangmu itu yang menjadi penggantiku. Rukun dan berbaktilah padanya” ujar Sultan Hadiwijaya yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1587 atau tiga tahun setelah ayah Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan wafat.
Memang sudah menjadi takdir bahwa Sultan Hadiwijaya wafat pada tahun itu. Namun konon salah satu lantaran sebabnya adalah berikut ini. Ki Juru Taman, seorang raja Jin abdi Panembahan Senopati menawarkan jasa untuk membunuh Sultan Hadiwijaya. Mendengar tawaran itu, Panembahan Senopati berkata: “Saya tidak punya niat seperti itu, tapi jika engkau ingin membunuhnya maka terserah dan saya tidak memberi perintah padamu tapi juga tidak melarangmu!”
Tahu dan tanggap sasmita narendra apa yang diinginkan sang Panembahan, Raja Jin Ki Juru Taman segera melakukan aksi membunuh Sultan Hadiwijaya dengan kesaktiannya. Jenazahnya dimakamkan oleh masyarakat di Makam Kota Gede, yang berjajar dengan Makam Nyai Ageng Enis, ibu Ki Ageng Pemanahan dan Pangeran Jayaprana— leluhur Raja-Raja Surakarta dan Yogyakarta.
Situs Selo Gilang Lipura, Peninggalan Danang Sutawijaya
![]() |
| Selo Gilang, Lipura |
Keberadaan situs Selo
Gilang Lipura adalah salah satu situs penting dalam sejarah Kerajaan Mataram
Islam. Lokasinya berada di Desa Wisata Gilang Harjo, Pandak, Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Situs ini merupakan peninggalan Danang Sutawijaya, pendiri
sekaligus raja pertama Mataram.
Situs Selo Gilang ini
diyakini oleh para kawula Mataram sebagai petilasan shalat, meditasi dan dzikir
Danang Sutawijaya serta gurunya, yakni Ki Ageng Pemanahan.
Batu yang menjadi
sajadah Panembahan Senopati (nama masyhur Sutawijaya) tersebut konon dahulunya
berada di tengah danau kecil di alam terbuka. Di petilasan itulah Sang
Panembahan dalam istilah Jawa "kewahyon" atau mendapatkan wahyu
(ilham) Lintang Johar untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam.
Nama Lintang Johar
berdasarkan keyakinan orang Jawa mengacu kepada cahaya Jauhar Awwal Rasulullah
atau Nur Muhammad. Cahaya awal penciptaan segala sesuatu yang lapis-lapis
cahaya itu dijelaskan dalam QS. An-Nuur 35.
Kini batu sajadah itu berada di dalam cungkup
(rumah kecil) dan dijaga oleh juru kunci Kraton Ngayogyakarta. Setiap Selasa
Kliwon ada kegiatan rutin masyarakat yang disebut Mujahadah Malem Rebo Legi.
Dengan hanya diterangi oleh obor dan teplok, ummat berdoa di lokasi bersejarah tersebut.
Penerangan listrik memang "disingkiri" atau ditabukan di lingkungan
situs. Barangkali tujuannya agar suasana menjadi lebih khusyu dan syahdu.
Pelet Bulu Perindu, Si Penakluk Sukma
| Bulu Perindu |
Dalam praktek praktis pemakian bulu perindu si penakluk sukma ini
sangatlah mudah dan anda tidak perlu ritual khusus, seperti: puasa, bakar
menyan dan lain sebagainya, anda juga tidak perlu ketemu dengan target atau
yang anda tuju, jadi sangat mudah walaupun pasangan anda berada jauh di luar
kota atau di luar negri, selain aman dan tanpa epek samping bulu perindu si penakluk sukma juga
dapat di gunakan oleh siapaun tua ataupun muda dan bebas semua agama dan
pantangan,
Untuk mengembalikan
pasangan yang jauh dan tidak cinta lagi sedangkan kamu sudah habis2san dengan
si dia, caranya mudah, ambil bulu perindu yang kami berikan letakkan di bawah
bantal, kemudian baca mantra yang kami berikan dan sebut namanya, maka target
yang anda tuju l;angsung teringat dengat anda, makan tak enak tidur tak nyeyak
ingin selalu bertemu dengan anda, maka dari yang terkena pelet bulu perindu
sukma akan rindu menagis dengan anda.
Sedangkan cara
pemakaian pelet bulu perindu si
penakluk sukma buat pasangan yang sudah tidak harmonis caranya juga sama
dengan cara yang di atas, namun jika anda satu rumah dengan target berikan dia
air bekas rendaman bulu perindu sukma tapi jangan sampai ketahuan, maka yang
telah meminum air rendaman bulu
perindu sukma akan semakin cinta dan sayang, satu lagi tidak pelit
lagi, Menarik bukan , tunggu apalagi pesan sekarang juga jangan tunggu kegalauan
anda semakin berlarut larut bisa tidak enak makan dan tidak enak tidur, galau
selamanya.Selasa, 14 Maret 2017
Ajain Gunthur Lathi, Pernah Dimiliki Gajah Mada
![]() |
| Gajah Mada |
Dalam cerita
kepahlawanan yang berbumbu dengan kesaktian, biasanya cerita tersebut, yang lebih ditonjolkan adalah
kesaktiannya, bisa ini dan bisa itu. Intinya, begitu saktinya tokoh dalam cerita
tersebut.
Konon, Ajian Gunthur
Lathi adalah nama salah satu ilmu penakluk yang paling kesohor. Orang yang berhasil menguasai Ajian Gunthur
Lathi atau mulut petir ini, maka orang tersebut jika sedang marah maka secara
otomatis nada suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar….
Mantera atau ajimah
memang sudah ada sejak dulu kala. Maka jangan heran jika nenek moyang dulu
mampu merobohkan musuhnya cukup dengan sekali bentakan saja, tanpa perlu beradu
fisik. Gajah Mada, misalnya.
Konon, salah satu ilmu
kesaktian yang dimiliki oleh Gajah Mada salah satunya adalah Ajian Guntur
Lathi. Karena menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka bila ia
sedang marah atau menghadapi musuhnya secara otomatis suaranya akan berubah
sangat keras laksana petir mengelegar. Manusia atau hewan seganas apapun akan
roboh terpaku di bumi bila terkena bentakannya.
Menurut cerita versi
lain, Ilmu Gunthur Lathi merupakan warisan dari raja besar Majapahit yakni
Prabu Hayam Wuruk, sang raja arif dan bijaksana. Di bawah kekuasaannya
Majapahit dapat menguasai atau menyatukan persada Nusantara di dibawah panji
Majapahit.
Cerita tersebut
menyebutkan bahwa memang sejak kecil Prabu Hayam Wuruk telah digembleng dengan
ilmu kedigdayaan, hal disebabkan memang dirinya telah dipersiapkan untuk
menjadi raja yang sakti mandraguna. Telah banyak ilmu yang dikuasainya dan satu
diantaranya adalah Ilmu Guntur Lathi.
Berkat dukungan dan
bimbingan Mahapatih Gajah Mada, ilmu langka dan unik ini dapat dikuasai dengan
sempurna. Dikisahkan, saat melakukan perburuan binatang di sebuah hutan,
rombongan pasukan raja disergap oleh sepuluh ekor singa yang keberadaannya
muncul secara tiba-tiba dari balik bukit.
Dapat diduga dengan
pasti para pengawal itu langsung membuat formasi pagar betis untuk melindungi
raja muda, Hayam Wuruk. Tetapi pengawal-pengawal itu terkejut, karena mereka
diperintahkan untuk menyingkir. Sementara itu, Prabu Hayam Wuruk keluar dari
pagar betis yang dibuat oleh para pengawal sejatinya.
Tak dapat disangka,
segerombolan singa yang jaraknya masih jauh kira-kira dua ratus meter itu
kemudian meraung-raung roboh dan tidak dapat berdiri lagi. Mereka ingin berlari
namun susah. Namun dengan bijaksana akhirnya singa-singa dilepas bebas ke
habitatnya oleh Prabu Hayam Wuruk.
Konon pula kabarnya,
ilmu ini diwariskan kepada putera-puteranya, namun tak banyak yang menguasai
ilmu hebat ini dengan sempurna. Hingga kemudian kerajaan Majapahit runtuh dan
para pangeran banyak yang melarikan diri ke pegunungan untuk mencari tempat yang
aman.
Untuk menguasai Ilmu
Guntur Lathi sangatlah berat, terutama bila tak ada niat yang besar dan kuat.
Adapun manteranya, adalah:
Sun amatake ajiku si guntur lathi, Guntur lathi
kuwang-kuwang, Midhaku raku, Guntur lathi pangucapku, Nyaut ora
nyiduk, gajah meta kala manembah, Rep sirep sangking kersanung gusti .
Syarat dan tatalakunya, adalah:
§ Melakukan puasa ngelowong selama tiga hari, yakni dimulai hari
Rabu Pon sampai Jum’at Kliwon.
§ Tiap sore sampai tengah malam pukul 00.00 tidak boleh tidur.
§ Tiap petang atau menjelang Maghrib membaca mantera di atas.
Bila merasa ragu
jangan melakukan segala syarat dari ilmu ini dan lupakan untuk menguasainya,
karena selama menjalankan atau melakukan syarat ini Anda mungkin akan mengalami
banyak keganjilan. Demikianlah sekilas tentang sebuah teknologi di masa silam
yang sangat dahsyat, bernama Ajian Gunthur Lathi.
Mencari Katentreman di Candi Kethek
Keberadaan
situs yang dikenal dengan nama candi Kethek berada di
lereng barat Gunung Lawu. Candi ini terletak
di Desa Blumbang, Jenawi, Karanganyar.
Konon, candi Kethek merupakan
peninggalan peradaban Hindu, sekitar tahun 1451 M. Konon banyak kejadian mistis
terjadi di candi yang bentuknya tak seutuh Candi Cetho ataupun Candi Sukuh yang
ternama di Karanganyar.
Candi Kethek adalah sebuah situs bekas bangunan candi dengan
empat teras bertingkat yang menghadap ke arah barat. Masing-masing teras itu
dihubungkan dengan undakan batu.
Candi Kethek dikelilingi oleh bukit-bukit yang lapang, dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.
Pada teras pertama candi terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Teras kedua dan ketiga masing-masing terdapat dua struktur bangunan di sisi utara dan selatan. Sedangkan teras keempat, teras teratas, diperkirakan merupakan tempat berdirinya bangunan induk candi, yang sekarang didirikan sebuah istana kecil dengan kemuncak mahkota berwarna keemasan, dibalut Kain Poleng khas Bali.
Untuk menuju ke Candi Kethek, jalan yang ditempuh tak mudah.
Dari Candi Cetho masih harus menempuh jarak kurang lebih empat kilometer, melewati
tengah hutan yang sulit dilalui. Agar tidak tersesat, meminta bantuan dari
warga sekitar sangat direkomendasikan.
Candi Kethek sendiri pertama kali
ditemukan oleh warga, Sudarno, yang sedang mencari rumput di tengah hutan.
Ketika ia menyabit rumput, ia terkejut sebab berulangkali arit yang digunakan
menyentuh benda keras. Ketika digali lagi, ternyata benda keras tersebut
berwujud batu bersusun sepanjang 1,5 meter.
Sebelum Sudarno menemukan candi tersebut, ada sejumlah warga
yang melihat cahaya putih dan hijau yang bersinar di angkasa, kemudian jatuh ke
bukit yang menunjukkan tempat ditemukannya candi tersebut.
Dinamakan Candi Kethek, lantaran ketika ditemukan pertama
kali di puncak bukit, pernah terdapat arca kera (kethek). Namun dalam
perkembangannya, arca tersebut musnah tanpa ada yang mengetahui.
Ada banyak kisah angker di lokasi candi. Penampakan berwujud
kera, suara tanpa wajah, kerap ditemui di sekitar candi. Warga yang kebetulan
sedang berada di sana, diminta untuk tidak bertindak gegabah agar tak mengalami
hal-hal buruk.
Meski
candi ini dikenal wingit dan angker, banyak orang yang mendatangi candi ini
untuk menunaikan lelaku. Ada banyak pengharapan yang disampaikan. Ada yang
ingin meraih ketenteraman hidup, naik pangkat, hingga dilancarkan dalam rezeki.
Tempat ini selalu ramai setiap malam Jumat.
Tuah Wesi Kuning
Zaman sudah maju tapi,
ternyata, masih ada satu benda yang
nylempit (terselip) yang nggumuni. Benda yang saya maksud ini adalah yang biasa
disebut wesi kuning, beberapa waktu yang lalu saya sempat menyaksikannya secara
langsung dari seorang yang tinggal di Kulon Progo. Mertuanya temen saya.
Meski tidak ada pakem
yang tertulis, berbagai benda gaib di dunia ini di percaya memiliki tuah magis
yang membuat kebal seseorang yang membawanya, ada beberapa benda mustika yang
lebih kita kenal, yakni mirah delima dan wesi kuning diantaranya. Tuah dari dua
mustika ini konon alamiah, atau dalam bahasa lain kekuatan tuahnya bersumber
dari alam.
Ada beberapa jenis
wesi kuning di dunia ini yang kesemuanya mampu membuat kebal pemakainya.
Setidaknya ada tiga jenis wesi kuning yang bisa dimiliki orang-orang yang
berjodoh dengan wesi aji ini, diantaranya adalah, wesi kuning yang berbentuk
lempengan kecil berukuran 2 cm, kemudian wesi kuning yang berbentuk jarum
lengkap dengan susuh atau rumahnya, dan wesi kuning dengan bentuk seperti
sebuah gada kecil.
Wesi kuning dengan
wujud lempengan, seperti punya mertua temen saya ini dipercaya memiliki tuah
anti silet sekaligus ‘ora tedas tapak palune pande’ (kebal terhadap senjata
tempa). Wesi kuning jenis ini bisa ditanam ke dalam tubuh yang berfungsi untuk
kekebalan pada saat perang. Konon wesi kuning lempengan jenis ini pada masa
lalu banyak dimiliki oleh para senopati dan panglima perang kerajaan.
Wesi kuning yang
memiliki susuh atau kepompong juga memiliki kemampuan membuat pemakainya kebal,
anti tenung, dan sekaligus tolak balak. Sedadangkan wesi kuning yang berbentuk
gada atau jalagada yang konon ukurannya tak lebih dari 2 cm itu Cuma hanya
untuk kebal. Lain tidak. Wesi aji dalam bentuk ini konon yang banyak beredar di
masyarakat.
Namun sayangnya,
ketiga wesi kuning diatas hanya sebatas besi biasa tanpa mantera pembukanya.
Diperlukan doa atau mantera khusus untuk membuka kekuatan ‘isi’ yang ada di
dalam wesi kuning. Wesi aji ini hanya akan menjadi sebatang besi kuning biasa
apabila ‘isi’ gaib yang berada di dalam wesi kuning tidak dibuka dengan asmak
doa mantera.
Wanita Bahu Laweyan
Dalam perspektif Jawa
dikenal istilah Bahu Laweyan. Yaitu, perempuan yang memiliki ciri-ciri khusus
pembawa sial.
Mitos seperti ini
mulai berkembang pada abad IX, seperti digambarkan dalam Serat Witaradya karya
R Ng Ronggowarsito konon sesunggunya memang ada, tetapi jumlahnya dapat
dihitung dengan jari. Keberadaannya mulai diperhitungkan sejak tahun 921 M saat
kejayaan Keraton Pengging Witaradya.
Kisah tersebut
ketika kerajaan Pengging mengadakan acara jumenengan(ulang
tahun penobatan raja). Raja Pengging saat itu tidak hanya sakti
tapi juga memiliki banyak teman. Baik dari golongan manusia sampai golongan jin
yang bernama Gandarwa Kurawa. Pada saat jumenengan tersebut
semua temannya diundang termasuk si Gandarwa. Dalam acara
tersebut. Gandarwa tertarik kepada salah seorang putri yang
bernama Dewi Citrasari. Karena dari dunia yang berbeda, si Gandarwa tidak
bisa berbuat apa-apa selain sungkan dengan sang Raja yang menjadi sahabatnya.
Tapi yang namanya
cinta. Siapapun yang sudah terkena virusnya, akan sulit untuk menolak.
Begitupun dengan Gandarwa. Segala cara dan upaya dilakukannya.
Dengan kesaktian dan kekuatan yang dia miliki, akhirnya dia bisa melakukan
hubungan intin dengan sang putri. Dewi Citrasari pun
mengandung benih percampuran antara manusia dan jin. Akhirnya, janin yang
dikandungnya lahir. Seorang bayi perempuan dengan membawa tanda khusus yaitu
tompel di bahu sebelah kiri dan oleh masyarakat setempat disebut dengan
istilah bahu laweyan.
Perempuan bahu laweyan mempunyai ciri-ciri pendiam, suka menyendiri dan mempunyai
tatapan mata kosong. Selain itu, perempuan bahu laweyan juga
kebal terhadap serangan berbagai ilmu hitam, seperti santet, teluh dan
sebagainya. Kehidupannya tidak normal, kerena sudah dipengaruhi
ssifat-sifat jin jahat. Dan jika dia menikah, siapapun yang menjadi suaminya
tidak akan bertahan lama. Karena ketika melakukan hubungan intim, si suami akan
meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ironisnya sampai saat ini ada sebagian
masyarakat yang masih mempercayainya. Oleh karena itu, jika di suatu daerah
kedapatan perempuan dengan ciri-ciri tersebut, maka tidak akan ada laki - laki
yang mau menikahinya dan dikucilkan. Padahal, setiap manusia yang lahir ke
dunia berhak mendapat perlakuan dan penghidupan yang layak.
Kyai Rajamala, Pusaka Kraton Suarakarta
![]() |
| Kyai Rajamala |
Bengawan Solo memiliki
ritus yang membuat repot, yakni meluap hingga menggenangi hunian sepanjang
alirannya. Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru, sudah ratusan tahun silam
ritus meluapnya Bengawan Solo ini selalu terjadi.
Di masa lalu ritus
meluapnya Bengawan Solo tak bisa dilepaskan dari sebuah perahu yang diberi nama
Kyai Rajamala. Perahu ini selalu digunakan Paku Buwono X untuk memeriksa banjir
diberbagai daerah. Tak hanya sebagai kendaraan diatas begawan, perahu yang memiliki
hiasan berupa kepala Rajamala di bagian ujungnya itu juga dipercaya sebagai
penolak bala sekaligus pengusir penyakit.
Kabarnya, setiap
daerah yang dilalui perahu Kyai Rajamala, tak pernah terjangkiti penyakit yang
biasanya muncul di daerah-daerah banjir – seperti penyakit kulit dan muntaber.
Keangkeran atau lebih tepatnya kekeramatan Kyai Rajamala ini ternyata masih
terpelihara hingga kini, setiap tahunnya, pada bulan Suro – Kyai Rajamala pada
waktu-waktu tertentu mengeluarkan bau anyir darah, dan akan hilang setelah
dilakukan jamasan terhadapnya.
Kyai Rajamala ini
termasuk salah satu pusaka utama Kasunanan Surakarta dan masih bisa kita
saksikan hingga kini, tepatnya di Museum Radya Pustaka. Pusaka yang berbentuk
patung kepala raksasa yang dulunya sebagai hiasan perahu pada jaman Paku Buwono
IV di semayamkan. Saking keramatnya, bahkan ada larangan untuk pengunjung untuk
sekedar menyentuhnya.
Riwayat keberadaan
Kyai Rajamala ini cukup menarik, tak hanya berurusan dengan Bengawan Solo,
cerita tentang keberadaannya juga sarat dengan cerita kekisruhan yang
melingkupi Kasunanan Surakarta di masa lalu.
Keberadaan pusaka Kyai
Rajamala tak lepas dari kisah soal rasa hormat Sunan Pakubuwono V kepada ibu
tirinya, GKR Kenconowungu. Juga diceritakan bagaimana piawainya sang raja saat
masih menjadi putra mahkota yang harus mengurai keruwetan rumah tangga sang
ayah, Sunan Pakubuwono IV.
Kisah ini kami sarikan
bebas dan selektif dari buku ‘Pakubuwono V’ karangan Soemosapoetro yang terbit
pada tahun 1956 silam. Sebenarnya, buku ini aslinya berbahasa Jawa krama
inggil, salah satu tingkatan tertinggi penggunaan Bahasa Jawa yang lazim
dijumpai dalam uraian karya sastra Jawa, terutama yang ditulis oleh pujangga
keraton.
Diceritakan, Pangeran
Adipati Anom begitu berduka. Putra mahkota Sunan Pakubuwono III itu seakan tak
kuat menanggung nestapa karena isterinya yang tercinta, Bandoro Raden Ayu
(BR.Ay.) Adipati Anom (yang saat muda bernama Raden Ajeng Handoyo), putri pertama
dari Adipati Cakraningrat di Madura, meninggal dunia. Bukan karena
ditinggal tambatan hati, namun juga sang pangeran amat sedih mengingat mereka
sebenarnya sedang menempuh kebahagiaan karena sudah dikarunia seorang putra
laki-laki yang diberi nama Gusti Raden Mas (GRM) Sugandi dan sudah berusia 1,5
tahun.
Seakan tidak ingin
berpisah terlalu jauh dengan almarhumah isteri yang dicintainya, ia meminta
supaya jenazah isterinya dikebumikan di Laweyan, di serambi masjid milik
Kasunanan Surakarta. Permintaan itu jelas menetang tradisi, mengingat sebagai
keluarga inti keturunan raja-raja Mataram mestinya dimakamkan di pemakaman
Pajimatan di Imogiri yang dulu sengaja dibuat oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma,
raja Mataram yang terkenal heroik karena pernah memerintahkan penyerangan ke
Batavia tahun 1626 dan 1628 tersebut. Dengan dimakamkan di Laweyan, sang putra
mahkota berharap akan dapat sewaktu-waktu berziarah kepada isterinya tersebut.
Di tengah kedukaan tersebut, pada tanggal 26 September 1788 ayahnya, Sunan Pakubuwono III meninggal dunia. Pangeran Adipati Anom tak dapat mengelak dari kewajiban. Mengingat kedudukannya sebagai putra mahkota yang harus segera memikul tanggung jawab besar karena harus menggantikan kedudukan ayahnya. Maka dipupuslah segala kedukaan karena meninggalnya sang isteri dan 3 hari sesudah wafatnya sang ayah, ia diwisuda menjadi Sunan Pakubowono IV, tepatnya pada tanggal 29 September 1788.
Di tengah kedukaan tersebut, pada tanggal 26 September 1788 ayahnya, Sunan Pakubuwono III meninggal dunia. Pangeran Adipati Anom tak dapat mengelak dari kewajiban. Mengingat kedudukannya sebagai putra mahkota yang harus segera memikul tanggung jawab besar karena harus menggantikan kedudukan ayahnya. Maka dipupuslah segala kedukaan karena meninggalnya sang isteri dan 3 hari sesudah wafatnya sang ayah, ia diwisuda menjadi Sunan Pakubowono IV, tepatnya pada tanggal 29 September 1788.
![]() |
| Dayung Kyai Rajamala |
Suatu beban yang luar
biasa, mengingat saat itu usianya masih sangat muda, sekitar 20 tahun lebih 7
bulan. Kelak Sunan Pakubuwono IV ini termasuk salah satu raja yang mumpuni dan
melahirkan banyak tulisan sastra (serat), dan satu diantaranya yang terkenal
adalah Serat Wulangreh.
Hampir 3 tahun setelah
menjadi raja, demi menjaga wibawa dan kedudukannya, Sunan Pakubuwono IV
memutuskan untuk menikah kembali. Uniknya, perempuan yang dipilih adalah Raden
Ajeng Sakaptinah, yang juga putri Adipati Cakraningrat di Sumenep, Madura. Dalam
istilah Jawa, perkawinan di mana laki-laki menikahi saudara isterinya yang
sudah meninggal dunia, dikenal dengan perkawinan “ngrangulu.” Pernikahan itu
diresmikan pada 17 Agustus 1791. Isteri barunya itu diberi kedudukan sebagai
permaisuri dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kenconowungu.
Putra Sunan Pakubuwono
IV, GRM Sugandi yang sejak kecil tak pernah merasakan belaian kasih sayang ibu,
menyambut baik pernikahan ayahnya itu, dan bahkan menghormati permaisuri yang
sekaligus bibinya itu tak kurang laksana kepada ibunya sendiri. Dari pernikahan
itu, Sunan Pakubuwono IV memperoleh 2 anak, yaitu Pangeran Purboyo dan GKR
Pembayun. Sepuluh tahun kemudian, pada 13 Agustus 1792 GRM Sugandi diangkat
ayahnya menjadi putra mahkota dan kemudian bergelar Pangeran Adipati Anom. Saat
itu usia GRM Sugandi sudah menginjak 7 tahun 8 bulan.
Kedudukan itu
dikukuhkan lagi pada 11 Juli 1796, Sesudah memperoleh kedudukan sebagai calon
raja itulah, Pangeran Adipati Anom kemudian belajar banyak hal mengenai ilmu
keprajuritan, tata pemerintahan, dan tak ketinggalan bahasa dan sastra Jawa.
Untuk yang terakhir ini, sang pangeran tiada memperoleh kesulitan mengingat
sang ayah adalah raja tetapi berjiwa pujangga dengan banyak menyajikan karya
sastra yang tinggi pengaruhnya terhadap peradaban kerajaan.
Kelak sang pangeran
ini akan mampu melahirkan karya sastra yang dewasa ini termasyur sebagi
ensiklopedia ilmu pengetahuan dan diberi nama “Serat Centhini.” Bahkan tidak
segan-segan sang ayah sendiri yang memberikan pengajaran soal keutamaan dan
keluhuran peran sebagai seorang raja. Sang ayah juga yang kemudian mencarikan
isteri bagi putera mahkota tersebut yaitu seorang putri dari Raden Mas Haryo
Joyodiningrat, kerabat Kasunanan Surakarta.
Akibat semangat dalam
menerima ajaran-ajaran keluruhan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan itu,
Pangeran Adipati Anom kemudian tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan kaya
inisiatif. Bahkan, dalam suatu kesempatan tersendiri, sang pangeran secara
terampil mampu membuat sebuah keris. Dan keris itu sedemikian indahnya dan
terbuat dari serpihan logam meriam Kyai Guntur Geni, pusaka di masa Sunan
Pakubuwana II saat masih bertahta di Keraton Kartosura.
Konon meriam itu
memiliki kesaktian yang luar biasa dan saat pemberontakan Raden Mas Garendi
(kelak bergelar Sunan Kuning), pusaka itu dijadikan senjata andalan, tetapi
rusak. Ketika Sunan Pakubuwono IV tahu hasil keterampilan putranya tersebut, ia
meminta keris itu dijadikan pusaka kerajaan dan diberi nama Kanjeng Kyai Kaget.
Nama ini berasal dari suara hati sang raja yang kagum dengan keterampilan sang
putra mahkota dalam menghasilkan pusaka dengan keindahan yang luar biasa.
![]() |
| Jamasan Kyai Rajamala |
Namun, sang pangeran
tahu, apresiasi ayahnya itu tidak lantas membuatnya bahagia. Bagaimanapun ia
tahu, sang ayah sedang tidak bertegur sapa dengan ibu tirinya, permaisuri raja,
GKR Kenconowungu. Pangeran Adipati Anom sama sekali tidak tahu apa musabnya dan
secara tata karma tentu tidak berani untuk bertanya kepada ayahnya. Bahkan,
lama-lama ia mendengar sang ayah akan menceraikan permaisurinya itu dan akan
dipulangkan ke Madura.
Walaupun ibu tiri,
tetapi sang pangeran tidak kurang cintanya kepada GKR Kenconowungu mengingat
sejak usia 1,5 tahun dia tidak lagi memperoleh curahan kasih sayang dari
ibunya. Dia bertekad andaikata benar Sunan Pakubuwono akan menceraikan GKR
Kenconowungu, maka ia sendiri akan mengantar sang ibu ke Madura. Dia sendiri
bertekad tidak akan pernah kembali ke Kasunanan Surakarta dan memilih hidup
bersama sang kakek, Adipati Cakraningrat di Madura.
Dia juga memerintahkan
para abdi dalem Kadipaten (kediaman resmi putra mahkota) untuk selalu siaga dan
berpakaian seragam prajurit. Ia juga membuat sendiri sebuah perahu besar yang
kelak akan digunakannya menyusuri sungai Bengawan Sala menuju Madura andai
perceraian raja dan permaisuri terjadi. Perahu itu besar, indah, dan berwibawa,
dan bahkan di ujungnya ada hiasan berupa kepala raksasa (Gupala). Perahu itu
diberi nama Kyai Rajamala dan sampai sekarang masih tersimpan di Museum Radya
Pustaka, Surakarta.
Sunan Pakubuwono
kemudian memanggil sang putra mahkota. Pangeran Adipati Anom tak kuasa lagi
menahan perasaannya. Dengan takzim ia mengatakan bahwa jika sampai ayahnya
menceraikan permaisuri dia akan mengantar ibunya ke Madura dan tidak akan
bersedia kembali lagi ke kerajaan.
Alangkah terkejutnya
sang raja mendengar curahan hati Pangeran Adipati Anom. Lebih terkejut lagi
saat ia dengan mata kepala sendiri sebuah perahu besar dan sekian banyak
prajurit yang akan mengantar putranya ke Madura. Suatu masalah besar jika niat
itu terlaksana. Ia tidak akan mempunyai putra mahkota yang sudah sekian lama ia
cita-citakan menjadi penguasa Surakarta.
Seketika terharulah
hati sang raja dan segeralah ia merangkul dengan perasaan sayang kepada
Pangeran Adipati Anom. Dia juga berjanji bahwa dia tidak akan pernah
menceraikan GKR Kenconowungu, apalagi mengembalikan isterinya itu Madura.
Legalah Pangeran Adipati Anom mendengar janji ayahnya itu. Dan ia pun bersedia
memangku jabatan putera mahkota dan akan selalu mendampingi ayahnya dalam
menjalankan roda pemerintahan.
Bahkan selanjutnya,
sang raja dan permaisuri berkenan untuk menggunakan perahu Kyai Rajamala itu
untuk bersukaria dan menghibur diri bersama-sama dengan para kerabat keraton
mengarungi sungai Bengawan Solo.
Untuk mengenang dan
mengabadikan rasa cinta kepada GKR Kenconowungu, Pangeran Adipati Anom
menggubah Gending Ludira Madu untuk mengiringi tari Serimpi. Tarian ini adalah
tarian untuk hiburan raja yang dilakukan oleh 4 orang perempuan. Iringan
gending diberi nama Ludira Madu, artinya darah Madura, suatu persembahan untuk
ibunya, GKR Kenconowungu.
Di samping itu, ia
juga menggubah Gending Loro-Loro, untuk mengiringi tari Penthul, sosok yang
digambarkan sebagai abdi kerajaan dengan menggunakan topeng yang lucu. Diberi
nama Loro-Loro, artinya dua-dua, karena menurut sang pangeran hidup di dunia
selalu 2 dimensi, senang dan sedih; benar dan salah; dan seterusnya.
![]() |
| Sesaji Kyai Rajamala |
Pada tanggal 2 Oktober
1820, hampir 33 tahun setelah menjadi raja, Sunan Pakubuwono IV meninggal dunia
dalam usia 53 tahun. Kemudia 8 hari sesudah itu, tepatnya pada 10 Oktober 1820,
Pangeran Adipati Anom dinobatkan atau jumeneng menjadi raja Surakarta dan
bergelar Sunan Pakubuwono V, sedangkan isterinya kemudian diangkat menjadi
permaisuri bergelar GKR Mas Ageng.
Saat itu usianya 36
tahun. Untuk menghormati ibu kandunganya yang dimakamkan di Laweyan dan sudah
meninggal saat ia berusia 1,5 tahun, raja baru itu juga mengganti nama ibunya
dan menjadi bergelar GKR Pakubuwono. Tak lama kemudian pada tanggal 21 Januari
1821, GKR Kencowonowungu meninggal dunia. Dan malang bagi sang raja baru itu, 3
bulan setelah kematian ibunya, permaisurinya GKR Mas Ageng meninggal dunia
pula.
Jasad sang isteri
dimakamkan berdampingan dengan ibunya GKR Kenconowungu di Imogiri, Yogyakarta.
Tak terkirakan kesedihan Sunan Pakubuwono V. Dalam jangka waktu hampir
berturut-turut sudah ditinggal oleh ayah, ibu, dan isterinya sendiri.
Akibatnya, ia tidak berkonsentrasi penuh dalam memikirkan roda pemerintahan
kerajaan. Namun tak lama kemudian Sunan Pakubuwono V menikah kembali dengan
putri Tumenggung Kusumodiningrat dan diangkat sebagai permaisuri dengan gelar
GKR Kencono.
Sesudah 100 hari pasca
kematian ibunya GKR Kencowonowungu, Sunan Pakubuwono yang telah kembali
menjalankan roda pemerintahan, menyempatkan diri untuk memperhitungkan harta
warisan ibunya tersebut. Bagaimanapun, perkawinan mendiang dengan ayahnya
menghasilkan 2 putera sebagai adik tirinya yaitu Pangeran Purboyo dan GKR
Pembayun. Dia berniat untuk menyerahkan sepenuhnya harta peninggalan ibunya
kepada kedua saudara tirinya tersebut.
Namun, atas saran
Pangeran Angabei, saudara laki-laki tiri lain ibu (hasil pernikahan Sunan
Pakubuwono IV dengan selir Mas Ayu Rantansari), dimohonkan agar niat itu
dipertimbangkan kembali. Bagaimanapun, ibu raja, GKR Pakubuwono masih saudara
dengan GKR Kenconowungu, ibu tirinya. Dengan posisi itu, maka Sunan Pakubuwono
V merupakan salah satu ahli waris juga. Dengan demikian, harta peninggalan GKR
Kenconowungu tidak dapat segera dibagi.
Pembagiannya, atas
kehendak Sunan Pakubuwono V, harus berdasarkan seluruh putra putri Sunan
Pakubuwono IV dan semua persetujuan mengenai hal itu harus dituangkan dalam
sebuah surat pernyataan tertulis. Meskipun demikian, persetujuan itu segera
tercapai, termasuk Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun yang menyerahkan
sepenuhnya pembagian harta peninggalan ibu mereka kepada Sunan Pakubuwono V.
Tibalah hari dan saat
Sunan Pakubuwono V mengambil keputusan. Dalam suatu persidangan kerajaan 1 Mei
1821, Sunan Pakubuwono V menjelaskan aspek-aspek persoalan yang terkait dengan
pembagian harta peninggalan mendiang GKR Kenconowungu. Sunan berketetapan untuk
melaksanakan pembagian harta peninggalan itu menurut ketentuan hukum Islam.
Semua yang hadir menanti dengan penuh kecemasan dan perasaan tak menentu
mengingat semenjak awal mereka semua tahu bahwa sebagai raja, Sunan telah
berkehendak untuk mengambilalih semua persoalan waris itu.
Keputusan Sunan
Pakubuwono V sungguh di luar dugaan dan mengejutkan semua yang hadir, termasuk
Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun. Sunan Pakubuwono V berketetapan bahwa semua
harta peninggalan GKR Kenconowungu yang bersifat sebagai barang “kaputren”
diserahkan sepenuhnya kepada GKR Pembayun, termasuk gaji sebagai permaisuri.
Sementara untuk Pangeran Purboyo adalah semua harta peninggalan yang bersifat
aksesoris untuk pria, termasuk hasil bumi tanah kedudukan. Sementara itu
peninggalan yang berupa perhiasan dan kitab-kitab dibagi secara adil untuk
mereka berdua.
Sementara itu, Sunan
Pakubuwono V bersedia untuk mengambil alih semua beban keuangan GKR
Kenconowungu semasa hidupnya. Raja juga bertitah agar siapapun kerabat yang
merasa mempunyai hutang atau berurusan dengan almarhumah ibu tirinya itu, untuk
segera mengatakan kepadanya dan sang raja sendiri yang akan melunasi. Keputusan
Sunan Pakubuwono V itu mengakhiri semua spekulasi yang berkembang saat itu,
terutama keinginan Sunan untuk menjadi pihak ahli waris.
Tak urung keputusan yang demikian sekalipun mengejutkan, tetapi
akhirnya menenteramkan semua pihak, termasuk kedua saudara tiri Sunan
Pakubuwono V. Demikian murah hati kepribadian Sunan, sehingga yang bersangkutan
akhirnya memperoleh julukan “Sunan Sugih”, raja yang kaya raya. Keputusan itu
juga menunjukkan kearifan dan kesabaran Sunan Pakubuwono V sekaligus berbakti
kepada GKR Kenconowungu, sekalipun semua pihak tahu, bahwa mendiang adalah ibu
tiri dari sang raja tersebut.
Jumat, 10 Maret 2017
Tetirah di Makam Ki Ageng Selo
Ki Ageng Selo
dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di
tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih
ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud,
utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi
yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan
oleh raja-raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat.
Legenda dari Makam Ki Ageng Selo :
Legenda dari Makam Ki Ageng Selo :
Cerita Ki Ageng Sela
merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja-raja
Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai
Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di Desa Sela,
Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup
dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang
sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai
tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).
Menurut cerita dalam
babad tanah Jawi (Meinama, 1905; Al – thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah
keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri
Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan
Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh
ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki
Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk
berguru agama Islam dan ilmu kesaktian.
Oleh Ki Ageng Tarub,
namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub
yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng
Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan
kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara
Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang
putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh
orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng
Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.
Kesukaan Ki Ageng Sela
adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia
tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi – bagikan kepada
tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng
Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru
daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya.
Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat
menurunkan raja-raja besar yang menguasai seluruh Jawa.
Kala semanten Ki Ageng
sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing
wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir
(Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking
kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten
ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki
Jaka Tingkir. (Altholif : 35 – 36).
Impian tersebut
mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja-raja
besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang
pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan
Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata :
Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131;
Altholif: 36 ).
Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak.
Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng
Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya.
Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat
darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke
desanya, Sela
Ketika Sultan Demak :
Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu
sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan
lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak-enak
menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “bledheg“ itu menyambar Ki
Ageng, berwujud seorang kakek-kakek. Kakek itu cepat-cepat ditangkapnya,
kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah
cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada
Sultan demak.
Oleh Sultan “bledheg“ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh
ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“
itu. Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu
diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah
menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek
“bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur
berantakan.
Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak.
Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk
dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai
Bicak diambilnya, “Bende“ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang
kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “Bende“ tersebut dipukul dan
suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak
berbunyi pertanda perangnya akan kalah.
Peristiwa lain lagi :
Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman
waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat
dibunuhnya, tetapi dia “kesrimpet“ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga
kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng
Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman
rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun – turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun – turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).
Dalam hidup
berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung
Tengah, Nyai Ageng Saba (Wanasaba), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai
Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki – laki bernama
Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin
dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar
atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki
Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi.
Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama – sama berguru kepada Sunan Kalijaga
bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Atas kehendak Sultan
Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian
terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan
di desa Lawiyan. (M. Atmodarminto, 1955: 1222).
Dari cerita diatas
bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja-raja Mataram Surakarta dan
Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih
ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo
Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api
abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang
dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat.
Bahkan dikatakan bahwa
dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak-arakan, agar setiap
pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah
masing-masing. Menurut Shrieke (II : 53), api sela itu sesungguhnya
mencerminkan “asas kekuasaan bersinar”. Bahkan data-data dari sumber babad
mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja-raja
didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan
kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar;
adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang.
Dari pandangan
tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat
pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles
masih menemukan sisa-sisa bekas kraton tua (Reffles, 1817 : 5). Peninggalan itu
terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil.
Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi.
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber-sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut.
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber-sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut.
Ketika daerah kerajaan
dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal
27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam-makam keramat di desa Sela daerah
Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam
tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar
makam tersebut untuk pemeliharaannya. (Graaf, 3,1985 : II). Daerah enclave sela
dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam-makam berikut masjid dan rumah
juru kunci yang dipelihara atas biaya rata-rata tidak termasuk pembelian oleh
Pemerintah
Langganan:
Komentar (Atom)














