Selasa, 14 Maret 2017

Ajain Gunthur Lathi, Pernah Dimiliki Gajah Mada

Gajah Mada
Dalam cerita kepahlawanan yang berbumbu dengan kesaktian, biasanya  cerita tersebut, yang lebih ditonjolkan adalah kesaktiannya, bisa ini dan bisa itu. Intinya, begitu saktinya tokoh dalam cerita tersebut.

Konon, Ajian Gunthur Lathi adalah nama salah satu ilmu penakluk yang paling kesohor.  Orang yang berhasil menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka orang tersebut jika sedang marah maka secara otomatis nada suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar….

Mantera atau ajimah memang sudah ada sejak dulu kala. Maka jangan heran jika nenek moyang dulu mampu merobohkan musuhnya cukup dengan sekali bentakan saja, tanpa perlu beradu fisik. Gajah Mada, misalnya.

Konon, salah satu ilmu kesaktian yang dimiliki oleh Gajah Mada salah satunya adalah Ajian Guntur Lathi. Karena menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka bila ia sedang marah atau menghadapi musuhnya secara otomatis suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar. Manusia atau hewan seganas apapun akan roboh terpaku di bumi bila terkena bentakannya.

Menurut cerita versi lain, Ilmu Gunthur Lathi merupakan warisan dari raja besar Majapahit yakni Prabu Hayam Wuruk, sang raja arif dan bijaksana. Di bawah kekuasaannya Majapahit dapat menguasai atau menyatukan persada Nusantara di dibawah panji Majapahit.

Cerita tersebut menyebutkan bahwa memang sejak kecil Prabu Hayam Wuruk telah digembleng dengan ilmu kedigdayaan, hal disebabkan memang dirinya telah dipersiapkan untuk menjadi raja yang sakti mandraguna. Telah banyak ilmu yang dikuasainya dan satu diantaranya adalah Ilmu Guntur Lathi.

Berkat dukungan dan bimbingan Mahapatih Gajah Mada, ilmu langka dan unik ini dapat dikuasai dengan sempurna. Dikisahkan, saat melakukan perburuan binatang di sebuah hutan, rombongan pasukan raja disergap oleh sepuluh ekor singa yang keberadaannya muncul secara tiba-tiba dari balik bukit.

Dapat diduga dengan pasti para pengawal itu langsung membuat formasi pagar betis untuk melindungi raja muda, Hayam Wuruk. Tetapi pengawal-pengawal itu terkejut, karena mereka diperintahkan untuk menyingkir. Sementara itu, Prabu Hayam Wuruk keluar dari pagar betis yang dibuat oleh para pengawal sejatinya.

Tak dapat disangka, segerombolan singa yang jaraknya masih jauh kira-kira dua ratus meter itu kemudian meraung-raung roboh dan tidak dapat berdiri lagi. Mereka ingin berlari namun susah. Namun dengan bijaksana akhirnya singa-singa dilepas bebas ke habitatnya oleh Prabu Hayam Wuruk.

Konon pula kabarnya, ilmu ini diwariskan kepada putera-puteranya, namun tak banyak yang menguasai ilmu hebat ini dengan sempurna. Hingga kemudian kerajaan Majapahit runtuh dan para pangeran banyak yang melarikan diri ke pegunungan untuk mencari tempat yang aman.

Untuk menguasai Ilmu Guntur Lathi sangatlah berat, terutama bila tak ada niat yang besar dan kuat. Adapun manteranya, adalah:

 Sun amatake ajiku si guntur lathi, Guntur lathi kuwang-kuwang, Midhaku raku, Guntur lathi pangucapku, Nyaut ora nyiduk, gajah meta kala manembah, Rep sirep sangking kersanung gusti .

Syarat dan tatalakunya, adalah:

§  Melakukan puasa ngelowong selama tiga hari, yakni dimulai hari Rabu Pon sampai Jum’at Kliwon.
§  Tiap sore sampai tengah malam pukul 00.00 tidak boleh tidur.
§  Tiap petang atau menjelang Maghrib membaca mantera di atas.

Bila merasa ragu jangan melakukan segala syarat dari ilmu ini dan lupakan untuk menguasainya, karena selama menjalankan atau melakukan syarat ini Anda mungkin akan mengalami banyak keganjilan. Demikianlah sekilas tentang sebuah teknologi di masa silam yang sangat dahsyat, bernama Ajian Gunthur Lathi.  



Mencari Katentreman di Candi Kethek

Keberadaan situs yang dikenal dengan nama candi Kethek berada di lereng barat Gunung Lawu. Candi ini  terletak di Desa Blumbang, Jenawi, Karanganyar.
Konon, candi Kethek  merupakan peninggalan peradaban Hindu, sekitar tahun 1451 M. Konon banyak kejadian mistis terjadi di candi yang bentuknya tak seutuh Candi Cetho ataupun Candi Sukuh yang ternama di Karanganyar.
Candi Kethek adalah sebuah situs bekas bangunan candi dengan empat teras bertingkat yang menghadap ke arah barat. Masing-masing teras itu dihubungkan dengan undakan batu.

Candi Kethek dikelilingi oleh bukit-bukit yang lapang, dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.
Pada teras pertama candi terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Teras kedua dan ketiga masing-masing terdapat dua struktur bangunan di sisi utara dan selatan. Sedangkan teras keempat, teras teratas, diperkirakan merupakan tempat berdirinya bangunan induk candi, yang sekarang didirikan sebuah istana kecil dengan kemuncak mahkota berwarna keemasan, dibalut Kain Poleng khas Bali.
Untuk menuju ke Candi Kethek, jalan yang ditempuh tak mudah. Dari Candi Cetho masih harus menempuh jarak kurang lebih empat kilometer, melewati tengah hutan yang sulit dilalui. Agar tidak tersesat, meminta bantuan dari warga sekitar sangat direkomendasikan.
Candi Kethek sendiri pertama kali ditemukan oleh warga, Sudarno, yang sedang mencari rumput di tengah hutan. Ketika ia menyabit rumput, ia terkejut sebab berulangkali arit yang digunakan menyentuh benda keras. Ketika digali lagi, ternyata benda keras tersebut berwujud batu bersusun sepanjang 1,5 meter.
Sebelum Sudarno menemukan candi tersebut, ada sejumlah warga yang melihat cahaya putih dan hijau yang bersinar di angkasa, kemudian jatuh ke bukit yang menunjukkan tempat ditemukannya candi tersebut.
Dinamakan Candi Kethek, lantaran ketika ditemukan pertama kali di puncak bukit, pernah terdapat arca kera (kethek). Namun dalam perkembangannya, arca tersebut musnah tanpa ada yang mengetahui.
Ada banyak kisah angker di lokasi candi. Penampakan berwujud kera, suara tanpa wajah, kerap ditemui di sekitar candi. Warga yang kebetulan sedang berada di sana, diminta untuk tidak bertindak gegabah agar tak mengalami hal-hal buruk.
Meski candi ini dikenal wingit dan angker, banyak orang yang mendatangi candi ini untuk menunaikan lelaku. Ada banyak pengharapan yang disampaikan. Ada yang ingin meraih ketenteraman hidup, naik pangkat, hingga dilancarkan dalam rezeki. Tempat ini selalu ramai setiap malam Jumat.
 


Tuah Wesi Kuning

Zaman sudah maju tapi, ternyata,  masih ada satu benda yang nylempit (terselip) yang nggumuni. Benda yang saya maksud ini adalah yang biasa disebut wesi kuning, beberapa waktu yang lalu saya sempat menyaksikannya secara langsung dari seorang yang tinggal di Kulon Progo. Mertuanya temen saya.

Meski tidak ada pakem yang tertulis, berbagai benda gaib di dunia ini di percaya memiliki tuah magis yang membuat kebal seseorang yang membawanya, ada beberapa benda mustika yang lebih kita kenal, yakni mirah delima dan wesi kuning diantaranya. Tuah dari dua mustika ini konon alamiah, atau dalam bahasa lain kekuatan tuahnya bersumber dari alam.

Ada beberapa jenis wesi kuning di dunia ini yang kesemuanya mampu membuat kebal pemakainya. Setidaknya ada tiga jenis wesi kuning yang bisa dimiliki orang-orang yang berjodoh dengan wesi aji ini, diantaranya adalah, wesi kuning yang berbentuk lempengan kecil berukuran 2 cm, kemudian wesi kuning yang berbentuk jarum lengkap dengan susuh atau rumahnya, dan wesi kuning dengan bentuk seperti sebuah gada kecil.

Wesi kuning dengan wujud lempengan, seperti punya mertua temen saya ini dipercaya memiliki tuah anti silet sekaligus ‘ora tedas tapak palune pande’ (kebal terhadap senjata tempa). Wesi kuning jenis ini bisa ditanam ke dalam tubuh yang berfungsi untuk kekebalan pada saat perang. Konon wesi kuning lempengan jenis ini pada masa lalu banyak dimiliki oleh para senopati dan panglima perang kerajaan.

Wesi kuning yang memiliki susuh atau kepompong juga memiliki kemampuan membuat pemakainya kebal, anti tenung, dan sekaligus tolak balak. Sedadangkan wesi kuning yang berbentuk gada atau jalagada yang konon ukurannya tak lebih dari 2 cm itu Cuma hanya untuk kebal. Lain tidak. Wesi aji dalam bentuk ini konon yang banyak beredar di masyarakat.

Namun sayangnya, ketiga wesi kuning diatas hanya sebatas besi biasa tanpa mantera pembukanya. Diperlukan doa atau mantera khusus untuk membuka kekuatan ‘isi’ yang ada di dalam wesi kuning. Wesi aji ini hanya akan menjadi sebatang besi kuning biasa apabila ‘isi’ gaib yang berada di dalam wesi kuning tidak dibuka dengan asmak doa mantera.  


Wanita Bahu Laweyan


Indonesia, kaya akan budaya mistik. Banyak daerah yang mempunyai cerita-cerita yang berhubungan dengan mistik. Misalnya di Jawa. Ada salah satu cerita mistik yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan atau dipercaya begitu saja. Yaitu bagi perempuan yang mempunyai tembong (tahi lalat) di bahu sebelah kiri pasti akan mengalami kesialan. Dalam perpektif Jawa, hal tersebut dikenal dengan bahu laweyan atau perempuan pembawa sial.


Dalam perspektif Jawa dikenal istilah Bahu Laweyan. Yaitu, perempuan yang memiliki ciri-ciri khusus pembawa sial. 
Mitos seperti ini mulai berkembang pada abad IX, seperti digambarkan dalam Serat Witaradya karya R Ng Ronggowarsito konon sesunggunya memang ada, tetapi jumlahnya dapat dihitung dengan jari. Keberadaannya mulai diperhitungkan sejak tahun 921 M saat kejayaan Keraton Pengging Witaradya.

Kisah tersebut  ketika kerajaan Pengging mengadakan acara jumenengan(ulang tahun penobatan raja).  Raja Pengging  saat itu tidak hanya sakti tapi juga memiliki banyak teman. Baik dari golongan manusia sampai golongan jin yang bernama Gandarwa Kurawa. Pada saat jumenengan tersebut semua temannya diundang termasuk si Gandarwa. Dalam acara tersebut. Gandarwa tertarik kepada salah seorang putri yang bernama Dewi Citrasari. Karena dari dunia yang berbeda, si Gandarwa tidak bisa berbuat apa-apa selain sungkan dengan sang Raja yang menjadi sahabatnya.

Tapi yang namanya cinta. Siapapun yang sudah terkena virusnya, akan sulit untuk menolak. Begitupun dengan Gandarwa. Segala cara dan upaya dilakukannya. Dengan kesaktian dan kekuatan yang dia miliki, akhirnya dia bisa melakukan hubungan intin dengan sang putri. Dewi Citrasari pun mengandung benih percampuran antara manusia dan jin. Akhirnya, janin yang dikandungnya lahir. Seorang bayi perempuan dengan membawa tanda khusus yaitu tompel di bahu sebelah kiri dan oleh masyarakat setempat disebut dengan istilah bahu laweyan.

Perempuan bahu laweyan mempunyai ciri-ciri pendiam, suka menyendiri dan mempunyai tatapan mata kosong. Selain itu, perempuan bahu laweyan juga kebal terhadap serangan berbagai ilmu hitam, seperti santet, teluh dan sebagainya. Kehidupannya  tidak normal, kerena sudah dipengaruhi ssifat-sifat jin jahat. Dan jika dia menikah, siapapun yang menjadi suaminya tidak akan bertahan lama. Karena ketika melakukan hubungan intim, si suami akan meninggal dengan cara yang mengenaskan. Ironisnya sampai saat ini ada sebagian masyarakat yang masih mempercayainya. Oleh karena itu, jika di suatu daerah kedapatan perempuan dengan ciri-ciri tersebut, maka tidak akan ada laki - laki yang mau menikahinya dan dikucilkan. Padahal, setiap manusia yang lahir ke dunia berhak mendapat perlakuan dan penghidupan yang layak.




Kyai Rajamala, Pusaka Kraton Suarakarta

Kyai Rajamala
Bengawan Solo memiliki ritus yang membuat repot, yakni meluap hingga menggenangi hunian sepanjang alirannya. Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru, sudah ratusan tahun silam ritus meluapnya Bengawan Solo ini selalu terjadi.

Di masa lalu ritus meluapnya Bengawan Solo tak bisa dilepaskan dari sebuah perahu yang diberi nama Kyai Rajamala. Perahu ini selalu digunakan Paku Buwono X untuk memeriksa banjir diberbagai daerah. Tak hanya sebagai kendaraan diatas begawan, perahu yang memiliki hiasan berupa kepala Rajamala di bagian ujungnya itu juga dipercaya sebagai penolak bala sekaligus pengusir penyakit.

Kabarnya, setiap daerah yang dilalui perahu Kyai Rajamala, tak pernah terjangkiti penyakit yang biasanya muncul di daerah-daerah banjir – seperti penyakit kulit dan muntaber. Keangkeran atau lebih tepatnya kekeramatan Kyai Rajamala ini ternyata masih terpelihara hingga kini, setiap tahunnya, pada bulan Suro – Kyai Rajamala pada waktu-waktu tertentu mengeluarkan bau anyir darah, dan akan hilang setelah dilakukan jamasan terhadapnya.

Kyai Rajamala ini termasuk salah satu pusaka utama Kasunanan Surakarta dan masih bisa kita saksikan hingga kini, tepatnya di Museum Radya Pustaka. Pusaka yang berbentuk patung kepala raksasa yang dulunya sebagai hiasan perahu pada jaman Paku Buwono IV di semayamkan. Saking keramatnya, bahkan ada larangan untuk pengunjung untuk sekedar menyentuhnya.

Riwayat keberadaan Kyai Rajamala ini cukup menarik, tak hanya berurusan dengan Bengawan Solo, cerita tentang keberadaannya juga sarat dengan cerita kekisruhan yang melingkupi Kasunanan Surakarta di masa lalu.

Keberadaan pusaka Kyai Rajamala tak lepas dari kisah soal rasa hormat Sunan Pakubuwono V kepada ibu tirinya, GKR Kenconowungu. Juga diceritakan bagaimana piawainya sang raja saat masih menjadi putra mahkota yang harus mengurai keruwetan rumah tangga sang ayah, Sunan Pakubuwono IV.


Kisah ini kami sarikan bebas dan selektif dari buku ‘Pakubuwono V’ karangan Soemosapoetro yang terbit pada tahun 1956 silam. Sebenarnya, buku ini aslinya berbahasa Jawa krama inggil, salah satu tingkatan tertinggi penggunaan Bahasa Jawa yang lazim dijumpai dalam uraian karya sastra Jawa, terutama yang ditulis oleh pujangga keraton.

Diceritakan, Pangeran Adipati Anom begitu berduka. Putra mahkota Sunan Pakubuwono III itu seakan tak kuat menanggung nestapa karena isterinya yang tercinta, Bandoro Raden Ayu (BR.Ay.) Adipati Anom (yang saat muda bernama Raden Ajeng Handoyo), putri pertama dari Adipati Cakraningrat di Madura,  meninggal dunia. Bukan karena ditinggal tambatan hati, namun juga sang pangeran amat sedih mengingat mereka sebenarnya sedang menempuh kebahagiaan karena sudah dikarunia seorang putra laki-laki yang diberi nama Gusti Raden Mas (GRM) Sugandi dan sudah berusia 1,5 tahun.

Seakan tidak ingin berpisah terlalu jauh dengan almarhumah isteri yang dicintainya, ia meminta supaya jenazah isterinya dikebumikan di Laweyan, di serambi masjid milik Kasunanan Surakarta. Permintaan itu jelas menetang tradisi, mengingat sebagai keluarga inti keturunan raja-raja Mataram mestinya dimakamkan di pemakaman Pajimatan di Imogiri yang dulu sengaja dibuat oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Mataram yang terkenal heroik karena pernah memerintahkan penyerangan ke Batavia tahun 1626 dan 1628 tersebut. Dengan dimakamkan di Laweyan, sang putra mahkota berharap akan dapat sewaktu-waktu berziarah kepada isterinya tersebut.

Di tengah kedukaan tersebut, pada tanggal 26 September 1788 ayahnya, Sunan Pakubuwono III meninggal dunia. Pangeran Adipati Anom tak dapat mengelak dari kewajiban. Mengingat kedudukannya sebagai putra mahkota yang harus segera memikul tanggung jawab besar karena harus menggantikan kedudukan ayahnya. Maka dipupuslah segala kedukaan karena meninggalnya sang isteri dan 3 hari sesudah wafatnya sang ayah, ia diwisuda menjadi Sunan Pakubowono IV, tepatnya pada tanggal 29 September 1788.
Dayung Kyai Rajamala

Suatu beban yang luar biasa, mengingat saat itu usianya masih sangat muda, sekitar 20 tahun lebih 7 bulan. Kelak Sunan Pakubuwono IV ini termasuk salah satu raja yang mumpuni dan melahirkan banyak tulisan sastra (serat), dan satu diantaranya yang terkenal adalah Serat Wulangreh.

Hampir 3 tahun setelah menjadi raja, demi menjaga wibawa dan kedudukannya, Sunan Pakubuwono  IV memutuskan untuk menikah kembali. Uniknya, perempuan yang dipilih adalah Raden Ajeng Sakaptinah, yang juga putri Adipati Cakraningrat di Sumenep, Madura. Dalam istilah Jawa, perkawinan di mana laki-laki menikahi saudara isterinya yang sudah meninggal dunia, dikenal dengan perkawinan “ngrangulu.” Pernikahan itu diresmikan pada 17 Agustus 1791. Isteri barunya itu diberi kedudukan sebagai permaisuri dengan gelar Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Kenconowungu.

Putra Sunan Pakubuwono IV, GRM Sugandi yang sejak kecil tak pernah merasakan belaian kasih sayang ibu, menyambut baik pernikahan ayahnya itu, dan bahkan menghormati permaisuri yang sekaligus bibinya itu tak kurang laksana kepada ibunya sendiri. Dari pernikahan itu, Sunan Pakubuwono IV memperoleh 2 anak, yaitu Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun. Sepuluh tahun kemudian, pada 13 Agustus 1792 GRM Sugandi diangkat ayahnya menjadi putra mahkota dan kemudian bergelar Pangeran Adipati Anom. Saat itu usia GRM Sugandi sudah menginjak 7 tahun 8 bulan.

Kedudukan itu dikukuhkan lagi pada 11 Juli 1796, Sesudah memperoleh kedudukan sebagai calon raja itulah, Pangeran Adipati Anom kemudian belajar banyak hal mengenai ilmu keprajuritan, tata pemerintahan, dan tak ketinggalan bahasa dan sastra Jawa. Untuk yang terakhir ini, sang pangeran tiada memperoleh kesulitan mengingat sang ayah adalah raja tetapi berjiwa pujangga dengan banyak menyajikan karya sastra yang tinggi pengaruhnya terhadap peradaban kerajaan.

Kelak sang pangeran ini akan mampu melahirkan karya sastra yang dewasa ini termasyur sebagi ensiklopedia ilmu pengetahuan dan diberi nama “Serat Centhini.” Bahkan tidak segan-segan sang ayah sendiri yang memberikan pengajaran soal keutamaan dan keluhuran peran sebagai seorang raja. Sang ayah juga yang kemudian mencarikan isteri bagi putera mahkota tersebut yaitu seorang putri dari Raden Mas Haryo Joyodiningrat, kerabat Kasunanan Surakarta.

Akibat semangat dalam menerima ajaran-ajaran keluruhan ilmu pengetahuan dan kesusasteraan itu, Pangeran Adipati Anom kemudian tumbuh menjadi sosok yang cerdas dan kaya inisiatif. Bahkan, dalam suatu kesempatan tersendiri, sang pangeran secara terampil mampu membuat sebuah keris. Dan keris itu sedemikian indahnya dan terbuat dari serpihan logam meriam Kyai Guntur Geni, pusaka di masa Sunan Pakubuwana II saat masih bertahta di Keraton Kartosura.

Konon meriam itu memiliki kesaktian yang luar biasa dan saat pemberontakan Raden Mas Garendi (kelak bergelar Sunan Kuning), pusaka itu dijadikan senjata andalan, tetapi rusak. Ketika Sunan Pakubuwono IV tahu hasil keterampilan putranya tersebut, ia meminta keris itu dijadikan pusaka kerajaan dan diberi nama Kanjeng Kyai Kaget. Nama ini berasal dari suara hati sang raja yang kagum dengan keterampilan sang putra mahkota dalam menghasilkan pusaka dengan keindahan yang luar biasa.
Jamasan Kyai Rajamala

Namun, sang pangeran tahu, apresiasi ayahnya itu tidak lantas membuatnya bahagia. Bagaimanapun ia tahu, sang ayah sedang tidak bertegur sapa dengan ibu tirinya, permaisuri raja, GKR Kenconowungu. Pangeran Adipati Anom sama sekali tidak tahu apa musabnya dan secara tata karma tentu tidak berani untuk bertanya kepada ayahnya. Bahkan, lama-lama ia mendengar sang ayah akan menceraikan permaisurinya itu dan akan dipulangkan ke Madura.

Walaupun ibu tiri, tetapi sang pangeran tidak kurang cintanya kepada GKR Kenconowungu mengingat sejak usia 1,5 tahun dia tidak lagi memperoleh curahan kasih sayang dari ibunya. Dia bertekad andaikata benar Sunan Pakubuwono akan menceraikan GKR Kenconowungu, maka ia sendiri akan mengantar sang ibu ke Madura. Dia sendiri bertekad tidak akan pernah kembali ke Kasunanan Surakarta dan memilih hidup bersama sang kakek, Adipati Cakraningrat di Madura.

Dia juga memerintahkan para abdi dalem Kadipaten (kediaman resmi putra mahkota) untuk selalu siaga dan berpakaian seragam prajurit. Ia juga membuat sendiri sebuah perahu besar yang kelak akan digunakannya menyusuri sungai Bengawan Sala menuju Madura andai perceraian raja dan permaisuri terjadi. Perahu itu besar, indah, dan berwibawa, dan bahkan di ujungnya ada hiasan berupa kepala raksasa (Gupala). Perahu itu diberi nama Kyai Rajamala dan sampai sekarang masih tersimpan di Museum Radya Pustaka, Surakarta.

Sunan Pakubuwono kemudian memanggil sang putra mahkota. Pangeran Adipati Anom tak kuasa lagi menahan perasaannya. Dengan takzim ia mengatakan bahwa jika sampai ayahnya menceraikan permaisuri dia akan mengantar ibunya ke Madura dan tidak akan bersedia kembali lagi ke kerajaan. 

Alangkah terkejutnya sang raja mendengar curahan hati Pangeran Adipati Anom. Lebih terkejut lagi saat ia dengan mata kepala sendiri  sebuah perahu besar dan sekian banyak prajurit yang akan mengantar putranya ke Madura. Suatu masalah besar jika niat itu terlaksana. Ia tidak akan mempunyai putra mahkota yang sudah sekian lama ia cita-citakan menjadi penguasa Surakarta.

Seketika terharulah hati sang raja dan segeralah ia merangkul dengan perasaan sayang kepada Pangeran Adipati Anom. Dia juga berjanji bahwa dia tidak akan pernah menceraikan GKR Kenconowungu, apalagi mengembalikan isterinya itu Madura. Legalah Pangeran Adipati Anom mendengar janji ayahnya itu. Dan ia pun bersedia memangku jabatan putera mahkota dan akan selalu mendampingi ayahnya dalam menjalankan roda pemerintahan.

Bahkan selanjutnya, sang raja dan permaisuri berkenan untuk menggunakan perahu Kyai Rajamala itu untuk bersukaria dan menghibur diri bersama-sama dengan para kerabat keraton mengarungi sungai Bengawan Solo.

Untuk mengenang dan mengabadikan rasa cinta kepada GKR Kenconowungu, Pangeran Adipati Anom menggubah Gending Ludira Madu untuk mengiringi tari Serimpi. Tarian ini adalah tarian untuk hiburan raja yang dilakukan oleh 4 orang perempuan.  Iringan gending diberi nama Ludira Madu, artinya darah Madura, suatu persembahan untuk ibunya, GKR Kenconowungu.

Di samping itu, ia juga menggubah Gending Loro-Loro, untuk mengiringi tari Penthul, sosok yang digambarkan sebagai abdi kerajaan dengan menggunakan topeng yang lucu. Diberi nama Loro-Loro, artinya dua-dua, karena menurut sang pangeran hidup di dunia selalu 2 dimensi, senang dan sedih; benar dan salah; dan seterusnya.

Sesaji Kyai Rajamala
Pada tanggal 2 Oktober 1820, hampir 33 tahun setelah menjadi raja, Sunan Pakubuwono IV meninggal dunia dalam usia 53 tahun. Kemudia 8 hari sesudah itu, tepatnya pada 10 Oktober 1820, Pangeran Adipati Anom dinobatkan atau jumeneng menjadi raja Surakarta dan bergelar Sunan Pakubuwono V, sedangkan isterinya kemudian diangkat menjadi permaisuri bergelar GKR Mas Ageng. 

Saat itu usianya 36 tahun. Untuk menghormati ibu kandunganya yang dimakamkan di Laweyan dan sudah meninggal saat ia berusia 1,5 tahun, raja baru itu juga mengganti nama ibunya dan  menjadi bergelar GKR Pakubuwono. Tak lama kemudian pada tanggal 21 Januari 1821, GKR Kencowonowungu meninggal dunia. Dan malang bagi sang raja baru itu, 3 bulan setelah kematian ibunya, permaisurinya GKR Mas Ageng meninggal dunia pula.

Jasad sang isteri dimakamkan berdampingan dengan ibunya GKR Kenconowungu di Imogiri, Yogyakarta. Tak terkirakan kesedihan Sunan Pakubuwono V. Dalam jangka waktu hampir berturut-turut sudah ditinggal oleh ayah, ibu, dan isterinya sendiri. Akibatnya, ia tidak berkonsentrasi penuh dalam memikirkan roda pemerintahan kerajaan. Namun tak lama kemudian Sunan Pakubuwono V menikah kembali dengan putri Tumenggung Kusumodiningrat dan diangkat sebagai permaisuri dengan gelar GKR Kencono.

Sesudah 100 hari pasca kematian ibunya GKR Kencowonowungu, Sunan Pakubuwono yang telah kembali menjalankan roda pemerintahan, menyempatkan diri untuk memperhitungkan harta warisan ibunya tersebut. Bagaimanapun, perkawinan mendiang dengan ayahnya menghasilkan 2 putera sebagai adik tirinya yaitu Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun. Dia berniat untuk menyerahkan sepenuhnya harta peninggalan ibunya kepada kedua saudara tirinya tersebut.

Namun, atas saran Pangeran Angabei, saudara laki-laki tiri lain ibu (hasil pernikahan Sunan Pakubuwono IV dengan selir Mas Ayu Rantansari), dimohonkan agar niat itu dipertimbangkan kembali. Bagaimanapun, ibu raja, GKR Pakubuwono masih saudara dengan GKR Kenconowungu, ibu tirinya. Dengan posisi itu, maka Sunan Pakubuwono V merupakan salah satu ahli waris juga. Dengan demikian, harta peninggalan GKR Kenconowungu tidak dapat segera dibagi.

Pembagiannya, atas kehendak Sunan Pakubuwono V, harus berdasarkan seluruh putra putri Sunan Pakubuwono IV dan semua persetujuan mengenai hal itu harus dituangkan dalam sebuah surat pernyataan tertulis. Meskipun demikian, persetujuan itu segera tercapai, termasuk Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun yang menyerahkan sepenuhnya pembagian harta peninggalan ibu mereka kepada Sunan Pakubuwono V.

Tibalah hari dan saat Sunan Pakubuwono V mengambil keputusan. Dalam suatu persidangan kerajaan 1 Mei 1821, Sunan Pakubuwono V menjelaskan aspek-aspek persoalan yang terkait dengan pembagian harta peninggalan mendiang GKR Kenconowungu. Sunan berketetapan untuk melaksanakan pembagian harta peninggalan itu menurut ketentuan hukum Islam. Semua yang hadir menanti dengan penuh kecemasan dan perasaan tak menentu mengingat semenjak awal mereka semua tahu bahwa sebagai raja, Sunan telah berkehendak untuk mengambilalih semua persoalan waris itu.

Keputusan Sunan Pakubuwono V sungguh di luar dugaan dan mengejutkan semua yang hadir, termasuk Pangeran Purboyo dan GKR Pembayun. Sunan Pakubuwono V berketetapan bahwa semua harta peninggalan GKR Kenconowungu yang bersifat sebagai barang “kaputren” diserahkan sepenuhnya kepada GKR Pembayun, termasuk gaji sebagai permaisuri. Sementara untuk Pangeran Purboyo adalah semua harta peninggalan yang bersifat aksesoris untuk pria, termasuk hasil bumi tanah kedudukan. Sementara itu peninggalan yang berupa perhiasan dan kitab-kitab dibagi secara adil untuk mereka berdua.

Sementara itu, Sunan Pakubuwono V bersedia untuk mengambil alih semua beban keuangan GKR Kenconowungu semasa hidupnya. Raja juga bertitah agar siapapun kerabat yang merasa mempunyai hutang atau berurusan dengan almarhumah ibu tirinya itu, untuk segera mengatakan kepadanya dan sang raja sendiri yang akan melunasi. Keputusan Sunan Pakubuwono V itu mengakhiri semua spekulasi yang berkembang saat itu, terutama keinginan Sunan untuk menjadi pihak ahli waris.

Tak urung keputusan yang demikian sekalipun mengejutkan, tetapi akhirnya menenteramkan semua pihak, termasuk kedua saudara tiri Sunan Pakubuwono V. Demikian murah hati kepribadian Sunan, sehingga yang bersangkutan akhirnya memperoleh julukan “Sunan Sugih”, raja yang kaya raya. Keputusan itu juga menunjukkan kearifan dan kesabaran Sunan Pakubuwono V sekaligus berbakti kepada GKR Kenconowungu, sekalipun semua pihak tahu, bahwa mendiang adalah ibu tiri dari sang raja tersebut.  


Jumat, 10 Maret 2017

Tetirah di Makam Ki Ageng Selo

Makam Ki Ageng Selo teletak di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Selo ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah pada malam jum’at, dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan YME. Ki Ageng Selo sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat jawa umumnya, diakui memiliki kesaktian yang sangat luar biasa sampai-sampai dengan kesaktiannya ia dapat menangkap petir.

Ki Ageng Selo dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat.
Legenda dari Makam Ki Ageng Selo :

Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja-raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di Desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).

Menurut cerita dalam babad tanah Jawi (Meinama, 1905; Al – thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian.

Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.

Kesukaan Ki Ageng Sela adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi – bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasai seluruh Jawa.

Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. (Altholif : 35 – 36).

Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja-raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata : Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ).
Suatu ketika Ki Ageng Sela ingin melamar menjadi prajurit Tamtama di Demak. Syaratnya dia harus mau diuji dahulu dengan diadu dengan banteng liar. Ki Ageng Sela dapat membunuh banteng tersebut, tetapi dia takut kena percikan darahnya. Akibatnya lamarannya ditolak, sebab seorang prajurit tidak boleh takut melihat darah. Karena sakit hati maka Ki Ageng mengamuk, tetapi kalah dan kembali ke desanya, Sela
 
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak-enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “bledheg“ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek-kakek. Kakek itu cepat-cepat ditangkapnya, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak.

Oleh Sultan “bledheg“ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur berantakan.

Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “Bende“ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. Bila “Bende“ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.

Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “kesrimpet“ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .
… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun – turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ).

Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba (Wanasaba), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki – laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama – sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. (M. Atmodarminto, 1955: 1222).

Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja-raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat.

Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak-arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing-masing. Menurut Shrieke (II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar”. Bahkan data-data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja-raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang.

Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa-sisa bekas kraton tua (Reffles, 1817 : 5). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi.
Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber-sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut.

Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam-makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. (Graaf, 3,1985 : II). Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam-makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata-rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah


Menyibak Misteri Sabdo Palon Noyo Genggong


Berdasarkan cerita yang beredar dan banyak diyakini oleh masyarakat luas, Sabdo Palon adalah seorang ponokawan Prabu Brawijaya, penasehat spiritual dan pandhita sakti kerajaan Majapahit. Dari penelusuran secara spiritual, Sabdo Palon itu sejatinya adalah : Dang Hyang Nirartha/ Mpu Dwijendra/ Pedanda Sakti Wawu Rawuh/ Tuan Semeru yang akhirnya moksa di Pura Uluwatu.-

Dari referensi yang kita dapatkan, Dang Hyang Nirartha adalah anak dari Dang Hyang Asmaranatha, dan cucu dari Mpu Tantular atau Dang Hyang Angsokanatha (penyusun Kakawin Sutasoma dimana di dalamnya tercantum -Bhinneka Tunggal Ika-). Danghyang Nirartha adalah seorang pendeta Budha yang kemudian beralih menjadi pendeta Syiwa. Beliau juga diberi nama Mpu Dwijendra dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Beliau juga dikenal sebagai seorang sastrawan.

Dalam -Dwijendra Tattwa- dikisahkan sebagai berikut :-Pada Masa Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, tersebutlah seorang Bhagawan yang bernama Dang Hyang Dwi Jendra. Beliau dihormati atas pengabdian yang sangat tinggi terhadap raja dan rakyat melalui ajaran-ajaran spiritual, peningkatan kemakmuran dan menanggulangi masalah-masalah kehidupan. Beliau dikenal dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu dengan nama -Dharma Yatra-. Di Lombok Beliau disebut -Tuan Semeru- atau guru dari Semeru, nama sebuah gunung di Jawa Timur.-

Dengan kemampuan supranatural dan mata batinnya, beliau melihat benih-benih keruntuhan kerajaan Hindu di tanah Jawa. Maksud hati hendak melerai pihak-pihak yang bertikai, akan tetapi tidak mampu melawan kehendak Sang Pencipta, ditandai dengan berbagai bencana alam yang ditengarai turut ambil kontribusi dalam runtuhnya kerajaan Majapahit (salah satunya adalah bencana alam -Pagunung Anyar-). Akhirnya beliau mendapat petunjuk untuk hijrah ke sebuah pulau yang masih di bawah kekuasaan Majapahit, yaitu Pulau Bali. Sebelum pergi ke Pulau Bali, Dang Hyang Nirartha hijrah ke Daha (Kediri), lalu ke Pasuruan dan kemudian ke Blambangan.

Beliau pertama kali tiba di Pulau Bali dari Blambangan sekitar tahun caka 1411 atau 1489 M ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Beliau mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tripurusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Dang Hyang Nirarta dijuluki pula Pedanda Sakti Wawu Rawuh karena beliau mempunyai kemampuan supranatural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum sehingga beliau diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai jaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klan disusun. Awig-awig Desa Adat pekraman dibuat, organisasi subak ditumbuh-kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan. Selain itu beliau juga mendorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar, kidung atau kekawin.

Pura-pura untuk memuja beliau di tempat mana beliau pernah bermukim membimbing umat adalah : Purancak, Rambut siwi, Pakendungan, Ulu watu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melan-ting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain. Akhirnya Dang Hyang Nirartha menghilang gaib (moksa) di Pura Uluwatu. (Moksa = bersatunya atman dengan Brahman/Sang Hyang Widhi Wasa, meninggal dunia tanpa meninggalkan jasad).
Setelah mengungkapkan bahwa Sabdo Palon sejatinya adalah Dang Hyang Nirartha, 10 (sepuluh) pesan yang diperoleh dari kegaiban dari beliau Dang Hyang Nirartha sbb:
1. Tuwi ada ucaping haji, utama ngwangun tlaga, satus reka saliunnya, kasor ento utamannya, ring sang ngangun yadnya pisan, kasor buin yadnyane satus, baan suputra satunggal.

Ada sebenarnya ucapan ilmu pengetahuan, utama orang yang membangun telaga, banyaknya seratus, kalah keutamaannya itu, oleh orang yang melakukan korban suci sekali, korban suci yang seratus ini, kalah oleh anak baik seorang.
2. Bapa mituduhin cening, tingkahe menadi pyanak, eda bani ring kawitan, sang sampun kaucap garwa, telu ne maadan garwa, guru reka, guru prabhu, guru tapak tui timpalnya.

Ayahanda memberitahumu anakku, tata cara menjadi anak, jangan durhaka pada leluhur, orang yang disebut guru, tiga banyaknya yang disebut guru, guru reka, guru prabhu, dan guru tapak (yang mengajar) itu.
3. Melah pelapanin mamunyi, ring ida dane samian, wangsane tong kaletehan, tong ada ngupet manemah, melah alepe majalan, batise twara katanjung, bacin tuara bakat ingsak.

Lebih baik hati-hati dalam berbicara, kepada semua orang, tak akan ternoda keturunannya, tak ada yang akan mencaci maki, lebih baik hati-hati dalam berjalan, sebab kaki tak akan tersandung, dan tidak akan menginjak kotoran.
4. Uli jani jwa kardinin, ajak dadwa nah gawenang, patut tingkahe buatang, tingkahe mangelah mata, gunannya anggon malihat, mamedasin ane patut, da jua ulah malihat.

Mulai sekarang lakukan, lakukanlah berdua, patut utamakan tingkah laku yang benar, seperti menggunakan mata, gunanya untuk melihat, memperhatikan tingkah laku yang benar, jangan hanya sekedar melihat.
5. Tingkahe mangelah kuping, tuah anggon maningehang, ningehang raose melah, resepang pejang di manah, da pati dingeh-dingehang, kranannya mangelah cunguh, anggon ngadek twah gunanya.

Kegunaan punya telinga, sebenarnya untuk mendengar, mendengar kata-kata yang benar, camkan dan simpan dalam hati, jangan semua hal didengarkan.
6. Nanging da pati adekin, mangulah maan madiman, patutang jua agrasayang, apang bisa jwa ningkahang, gunan bibih twah mangucap, de mangucap pati kacuh, ne patut jwa ucapang.

Jangan segalanya dicium, sok baru dapat mencium, baik-baiklah caranya merasakan, agar bisa melaksanakannya, kegunaan mulut untuk berbicara, jangan berbicara sembarangan, hal yang benar hendaknya diucapkan.
7. Ngelah lima da ja gudip, apikin jua nyemakang, apang patute bakatang, wyadin batise tindakang, yatnain twah nyalanang, eda jwa mangulah laku, katanjung bena nahanang.
 
Memiliki tangan jangan usil, hati-hati menggunakan, agar selalu mendapat kebenaran, begitu pula dalam melangkahkan kaki, hati-hatilah melangkahkannya, bila kesandung pasti kita yang menahan (menderita) nya.
8. Awake patut gawenin, apang manggih karahaywan, da maren ngertiang awak, waluya matetanduran, tingkahe ngardinin awak, yen anteng twi manandur, joh pare twara mupuang.

Kebenaran hendaknya diperbuat, agar menemukan keselamatan, jangan henti-hentinya berbuat baik, ibaratnya bagai bercocok tanam, tata cara dalam bertingkah laku, kalau rajin menanam, tak mungkin tidak akan berhasil.
9. Tingkah ne melah pilihin, buka anake ka pasar, maidep matetumbasan, masih ya nu mamilihin, twara nyak meli ne rusak, twah ne melah tumbas ipun, patuh ring ma mwatang tingkah.

Pilihlah perbuatan yang baik, seperti orang ke pasar, bermaksud hendak berbelanja, juga masih memilih, tidak mau membeli yang rusak, pasti yang baik dibelinya, sama halnya dengan memilih tingkah laku.
10. Tingkah ne melah pilihin, da manganggoang tingkah rusak, saluire kaucap rusak, wantah nista ya ajinnya, buine tong kanggoang anak, kija aba tuara laku, keto cening sujatinnya.

Pilihlah tingkah laku yang baik, jangan mau memakai tingkah laku yang jahat, betul-betul hina nilainya, ditam-bah lagi tiada disukai masyarakat, kemanapun dibawa tak akan laku, begitulah sebenarnya anakku.







Jejak Sunan Lawu

Pada masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong
Sebagai putra dari selir raden patahpun berusaha mendapatkan kekuasaan, kawatir dengan kemauan raden patah yang dapat merusak tatanan majapahit, sang prabu pun mengambil langkah untuk memberikan tlatah gelagah wangi kepada raden patah, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di Glagah Wangi bernama demak bintoro
Ternyata roda pemerintahan demak telah ditumpangi perwira-perwira tiongkok yang dahulu berambisi menaklukan tanah jawa, sejak kegagalan serangan pasukan tartar ke singosari. pasukan pasukan tiongkok berusaha terus rongrongan terhadap kerajaan-kerajaan jawa dengan memasukan wanita-wanita tiongkok untuk dijadikan selir raja-raja jawa.
Dengan menggunakan bendera keislaman demak berhasil mengambil hati rakyat-rakyat jawa,pembentukan dewan wali pun dijadikan pondasi penggalangan kekuatan untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di tanah jawa.hingga akhirnya demakpun menginginkan majapahit tunduk takluk dibawah perintahnya, Sang prabu brawijaya gundah karena merasa demak adalah putranya dan beliaupun tidak ingin perang saudara terjadi di antara putra-putranya kelak.
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. demi penyamaran sang prabu menjalani hidupnya sebagai pertapa dan bergelar “SUNAN LAWU”.Sebelum sampai di puncak, beliau bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.
singkat cerita sunan lawu yang pernah banyak menimba ilmu islam dari maulana malik ibrahim yakni sunan gresik pun mengajarkan makrifat islam di gunung lawu. diantara anak muridnya adlah syeck siti jenar,bahkan atas perintah sunan bonangpun sunan kalijogo,sunan gunung jati,dan sunan kuduspun sempat menimba ilmu pada sunan lawu…
hingga akhir cerita Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk