Prosesi Baiad Gemblengan Daya Karomah Sapujagad, Oleh Tokoh Spiritual Indonesia Gus Cokro ST
https://www.youtube.com/watch?v=dylKYL0Peg0
https://www.youtube.com/watch?v=gVBVNW1yltE
https://www.youtube.com/watch?v=F1KQ17-6nZU
Supranatural News
Nguri-uri Budaya Leluhur
Selasa, 10 Oktober 2017
Rabu, 06 September 2017
Mengulik Kekeramatan Gua Lawah, Bali
Bagi anda pecinta
wisata,tentunya tidak asing lagi dengn sebutan Gua Lawah di Bali. Goa ini
begitu menakjubkan dengan adanya pura di bagian depan, namun juga menyimpan
misteri yang kerap dihubung-hubungkan dengan mitos atau legenda tertentu. Ada
yang menyebut Goa Lawah sebagai salah satu tempat keramat di Bali karena
kemisteriusannya tersebut.
Ketika memasuki Goa
Lawah, Anda akan melihat ada banyak kelelawar yang bergelantungan di sana. Jadi
rasanya wajar jika goa misterius disebut sebagai Goa Lawah di
mana ‘Lawah’ merujuk pada kelelawar dalam bahasa Indonesia. Kelelawar-kelelawar
tersebut juga dilindungi sehingga siapapun dilarang untuk menangkap ataupun
memburunya. Jika memperhatikan relief yang ada di bagian gerbang, Anda akan
melihat simbol kelelawar yang diyakini ada kaitannya dengan kedudukannya di goa
tersebut.
Legenda lokal yang
menyertai goa ini adalah keberadaan sungai yang diyakini dapat menyembuhkan
berbagai macam penyakit. Tidak hanya itu, Goa Lawah juga erat kaitannya dengan
Pura Besakih yang berada di lereng Gunung Agung, Bali. Bahkan disebut-sebut
dulu pernah ada lorong yang menghubungkan Goa Lawah dengan Pura Besakih
sepanjang 30 kilometer. Namun sayang, karena pernah terjadi gempa besar, lorong
penghubung tersebut runtuh.
Masyarat Hindu di Bali
mengatakan bahwa Goa Lawah merupakan perlambang kepala Naga Basuki dengan
badannya dan ekornya yang berakhir di kompleks Pura Besakih. Naga Basuki
sendiri memiliki arti tersendiri dalam mitologi Hindu yaitu dari 3 naga
jelmaan, Naga Basuki merupakan salah satunya dan sengaja diturunkan oleh dewa
untuk menyelamatkan bumi.
Oleh karena itu, ketika Anda datang ke Goa Lawah, janganlah berperilaku tidak
sopan atau berkata kasar. Keramatnya lokasi ini tentu bisa saja membuat
‘penghuni’ di dalamnya marah dan memperlakukan Anda sama tak sopannya. Karena
begitu sucinya tempat ini, tiap kali selesai mengadakan Upacara Ngaben, umat
Hindu harus ke Pura Goa Lawah dan juga Pura Besakih untuk
bersembahyang.
Napak Tilas Kejayaan Mataram
![]() |
| Cepuri Parangkusumo |
Tahun 1584. Sesaat setelah Ki Ageng Pemanahan
meninggal, Ki Juru Martani menghadap Sultan Hadiwijaya, untuk memilih siapa di
antara enam putra pemanahan yang akan diangkat sebagai penerus kerajaan Mataram
yang baru saja dikembangkan saat babad alas mentaok. Ki Ageng Pemanahan adalah
keturunan Majapahit dari garis ayah dan keturunan Nabi Muhammad dari garis ibu.
Sementara Ki Juru Martani adalah ipar dan penasehatnya.
Sultan Hadiwijaya kemudian memilih Danang Sutawijaya, putra sulung Pemanahan dan diberi gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Sementara Ki Juru Mertani diserahi tugas untuk menjadi penasehat Mataram dengan gelar Adipati Mandaraka. Keduanya diizinkan untuk tidak usah sowan ke Pajang selama satu tahun agar dapat konsentrasi membangun Mataram. “Kalau sudah setahun, datanglah kemari jangan terlambat,” titah Sultan Hadiwijaya.
Setelah diangkat tersebut, itu berarti Sutawijaya yang sudah bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo alias Panembahan Senopati adalah Raja Pertama Mataram. Setahun lamanya, Panembahan Senopati menata sedikit demi sedikit kerajaan baru tersebut sehingga tiba saatnya dia sowan ke Pajang (eks Demak) sebagai tanda “ngabekti”nya Mataram ke Pajang. Namun, karena alasan khusus Sang Panembahan Senopati enggan sowan ke Pajang. Sultan Hadiwijaya pun mulai curiga dan mengirim utusan terpercaya Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta untuk mencermati perkembangan Mataram.
Meskipun sebagai utusan Raja, dua Ngabehi ini tetap andap asor dan turun dari kuda lebih dulu ketika menemui Panembahan Senopati yang tetap duduk di punggung kuda. Kalau dilihat dari segi etika, hal ini tentu tidak pantas dan menunjukkan sikap merendahkan bahkan menantang tidak hanya utusan itu tetapi juga yang mengutus. Dengan sopan, utusan Pajang menyampaikan amanat Sultan Hadiwijaya bahwa Panembahan Senopati segera sowan menghadap ke Pajang, tidak mengadakan jamuan pesta dan tidak berambut gondrong.
Tetap duduk di punggung kuda, Panembahan Senopati menjawab, “Sampaikan kepada Kanjeng Sultan, saya tidak akan menghentikan pesta karena saya masih suka, saya disuruh cukur lha wong ini rambut-rambut saya sendiri. Saya diisurun menghadap ke Pajang ya mau saja asalkan Sultan menghentikan kesukaannya mengambil isteri para abdinya,.”
Dua utusan Pajang itu pun pulang dan melaporkan sebagai berikut bahwa Panembahan Senopati segera menghadap dan baik-baik saja. Soal Mataram sedang membangun tembok mengelilingi kerajaan dan sikap serta ucapan menantang Raja Pajang tidak mereka laporkan.
Semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan jalan dan kehendak sejarah…
Panembahan Senopati adalah sosok yang pandai menyerap energi kekuasaan dan kekuatan alam semesta demi membangun kerajaan Mataram. Mulai dari membina hubungan dengan penguasa Kedu dan Bagelen di sisi barat Mataram. Termasuk membangun kesatrian yang berhasil memiliki 1000 tentara pilih tanding dalam olah perang. Melihat gelagat egoisme Panembahan Senopati yang berlebihan ini, Ki Juru Martani menegur dan memberikan nasehat:
Sultan Hadiwijaya kemudian memilih Danang Sutawijaya, putra sulung Pemanahan dan diberi gelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo. Sementara Ki Juru Mertani diserahi tugas untuk menjadi penasehat Mataram dengan gelar Adipati Mandaraka. Keduanya diizinkan untuk tidak usah sowan ke Pajang selama satu tahun agar dapat konsentrasi membangun Mataram. “Kalau sudah setahun, datanglah kemari jangan terlambat,” titah Sultan Hadiwijaya.
Setelah diangkat tersebut, itu berarti Sutawijaya yang sudah bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panotogomo alias Panembahan Senopati adalah Raja Pertama Mataram. Setahun lamanya, Panembahan Senopati menata sedikit demi sedikit kerajaan baru tersebut sehingga tiba saatnya dia sowan ke Pajang (eks Demak) sebagai tanda “ngabekti”nya Mataram ke Pajang. Namun, karena alasan khusus Sang Panembahan Senopati enggan sowan ke Pajang. Sultan Hadiwijaya pun mulai curiga dan mengirim utusan terpercaya Ngabehi Wuragil dan Ngabehi Wilamarta untuk mencermati perkembangan Mataram.
Meskipun sebagai utusan Raja, dua Ngabehi ini tetap andap asor dan turun dari kuda lebih dulu ketika menemui Panembahan Senopati yang tetap duduk di punggung kuda. Kalau dilihat dari segi etika, hal ini tentu tidak pantas dan menunjukkan sikap merendahkan bahkan menantang tidak hanya utusan itu tetapi juga yang mengutus. Dengan sopan, utusan Pajang menyampaikan amanat Sultan Hadiwijaya bahwa Panembahan Senopati segera sowan menghadap ke Pajang, tidak mengadakan jamuan pesta dan tidak berambut gondrong.
Tetap duduk di punggung kuda, Panembahan Senopati menjawab, “Sampaikan kepada Kanjeng Sultan, saya tidak akan menghentikan pesta karena saya masih suka, saya disuruh cukur lha wong ini rambut-rambut saya sendiri. Saya diisurun menghadap ke Pajang ya mau saja asalkan Sultan menghentikan kesukaannya mengambil isteri para abdinya,.”
Dua utusan Pajang itu pun pulang dan melaporkan sebagai berikut bahwa Panembahan Senopati segera menghadap dan baik-baik saja. Soal Mataram sedang membangun tembok mengelilingi kerajaan dan sikap serta ucapan menantang Raja Pajang tidak mereka laporkan.
Semuanya mengalir apa adanya sesuai dengan jalan dan kehendak sejarah…
Panembahan Senopati adalah sosok yang pandai menyerap energi kekuasaan dan kekuatan alam semesta demi membangun kerajaan Mataram. Mulai dari membina hubungan dengan penguasa Kedu dan Bagelen di sisi barat Mataram. Termasuk membangun kesatrian yang berhasil memiliki 1000 tentara pilih tanding dalam olah perang. Melihat gelagat egoisme Panembahan Senopati yang berlebihan ini, Ki Juru Martani menegur dan memberikan nasehat:
“Ada tiga kesalahan yang kamu buat ngger… Kamu
memusuhi Raja Pajang Kanjeng Sultan yang tak lain orang tua dan gurumu. Saya
malu karena kita yang ada di kerajaan Mataram sepertinya tidak tahu membalas
budi baiknya. Bukankah kita telah diberi tanah dan wilayah untuk kita tempati
dan kita bangun ini? Saya minta ngger, sekarang mintalah kepada Allah dengan
teguh agar nanti bila Kanjeng Sultan sudah wafat, kamu bisa menggantikan
keratonnya. Tapi sekarang jangan sekali-kali memusuhi beliau. Justeru
sebaliknya, balaslah kebaikannya agar batinnya rela nanti kamu yang
menggantikan kedudukannya sebagai raja”
Panembahan Senopati kemudian memenuhi petunjuk
Ki Juru Mertani. Ia kemudian berangkat ke Lipura untuk bertapa. Di sebuah
tempat sepi, dia melihat sebuah batu hitam mengkilat yang cucuk untuk dipakai
meditasi. Batu indah ini dikenal sebagai “Sela Gilang” dan di batu ini pula
Panembahan mendapatkan WAHYU KERATON, yaitu sebuah wisik gaib yang jelas dan
terang berbunyi: “KAMU AKAN MENJADI RAJA MATARAM SEJATI MENGALAHKAN PAJANG DAN
KERAJAAN-KERAJAAN LAIN, BEGITU JUGA DENGAN ANAK CUCUMU. TETAPI CICITMU KELAK
JUGA AKAN MENJADI AKHIR KERAJAAN MATARAM….”
Selesai bertapa, Panembahan Senopati menghadap Ki Juru Mertani dan Ki Juru mengatakan bahwa pekerjaan besar baru dimulai sekarang. Pekerjaan besar yang dimaksud Ki Juru adalah mencari dukungan kekuatan adikodrati dari alam gaib. Panembahan Senopati diminta pergi ke pantai segara kidul (laut selatan) dan Ki Juru sendiri pergi ke gunung Merapi.
Di mata seorang Ki Juru yang waskita ini, dua tempat ini dikuasai oleh sosok penguasa di alamnya masing-masing. Penguasa samudra yaitu Kanjeng Ratu Kidul dan penguasa gunung berapi yaitu Kyai Sapu Jagad dan kadang juga muncul sosok bernama Kanjeng Ratu sekar Kedhaton. Selain itu masih ada dua penguasa gaib lagi yang perlu untuk diminta bantuan agar kerajaan Mataram ini bisa kuat yaitu Kanjeng Sunan Lawu di timur kerajaan, dan Sang Hyang Pramoni dan di barat yang menguasai hutan Krendhawahana.
Sejak dulu, pantai Parangkusumo cukup dikenal kalangan mistikus. Pantai yang terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis yang kini ditandai dengan Bangunan Cepuri ini konon merupakan titik dimana pintu gerbang Kerajaan Gaib Segara Kidul berada. Bila anda melakukan meditasi di pinggir pantai menghadap ke laut maka di kejauhan akan tampak Pintu Gerbang Kerajaan Segara Kidul terbuat bahan berwarna emas dengan tinggi menjulang puluhan meter dari lautan. Jadi bentangan pantai dari barat ke timur adalah alun-alun Kerajaan Segara Kidul tersebut. Sebuah penampakan yang indah yang bisa dinikmati oleh para pejalan spiritual.
Tiba di pantai Parangkusumo, panembahan Senopati segera berjalan di bebatuan karang di pantai. Di sebuah batu kecil dan menonjol, dia duduk dan melakukan meditasi. Menyatukan semua pancaindera ke satu titik dan menata batin untuk berdoa agar Tuhan Semesta Alam berkenan memberikan bantuan.
Tuhan tentu saja punya puluhan, ratusan, jutaan, milyaran cara untuk membantu orang yang ingin ditolong-NYA. Salah satu cara itu adalah mengutus Kanjeng Ratu Kidul untuk menemui Panembahan Senopati. Sebagaimana hukum alam yang berlaku, bantuan dan pertolongan Tuhan ini pastilah ada kisah dan cerita uniknya.
Panembahan Senopati yang memang dikenal sakti ini memulai untuk bertapa. Laut selatan yang semula bergelombang alamiah tiba-tiba menampakkan keanehannya. Ombak laut bergulung-gulung semakin membesar. Dinginnya air laut selatan sedikit demi sedikit berubah menjadi panas hingga mendidih. Penghuni lautan pastilah terganggu. Ikan-ikan serta binatang laut lainnya banyak yang mati akibat panasnya energi spiritual yang terpancar dari batin Panembahan. Setiap Panembahan masuk ke lebih dalam wilayah “NING” atau keheningan dan satu kulit batin terkelupas maka satu kulit itu menjadi energi panas yang membakar alam sekitar. Proses yang alamiah terjadi itu hampir sama persis saat seseorang melakukan matek aji atau matek hizib dan mantra yang mengeluarkan hawa panas ke lingkungan sekitarnya.
Para prajurit dan punggawa kerajaan Segara Kidul kuwalahan membendung energi panas yang terpancar dari tubuh Panembahan Senopati. Segala kesaktian dan kekebalan ratusan ribuan makhluk halus ini tawar dan membuat tubuh mereka melemas. Cukup berbahaya bila tidak dilakukan pencegahan karena jagad lelembut dan jagad fisik laut selatan semakin banyak yang tewas. Di saat yang genting itu, muncullah Kanjeng Ratu Kidul.
Ternyata begitu melihat penyebabnya semua ini adalah Panembahan Senopati yang sedang “manekung” atau “maneges”, Kanjeng Ratu kemudian membangunkan kesadaran Panembahan Senopati. Setelah berdialog, lahirlah sebuah konsensus atau perjanjian gaib antar dua makhluk di dua dimensi yang berbeda ini. Perjanjian gaib itu berbunyi: KANJENG RATU KIDUL AKAN MENDUKUNG PENUH KEJAYAAN DAN KEMAKMURAN
Jadi dengan perjanjian tersebut, maka Para Raja Mataram sejak Panembahan Senopati hingga saat ini harus menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul dan setia dengan perjanjian ini. Pernikahan ini juga secara filosofis bisa diartikan sebagai kewajiban Raja-Raja Mataram untuk wajib nguri-uri atau memelihara adat istiadat dan budaya Jawa karena ini sudah merupakan perjanjian. Bila perjanjian ini dilanggar, maka Kanjeng Ratu Kidul berpesan dirinya tidak akan menjamin lagi keamanan dan kesejahteraan kerajaan Mataram. Sebab secara alamiah tanah Mataram memang terkenal tanah yang sesungguhnya menyimpan potensi bencana. Bencana gempa bumi akibat pergeseran-pergeseran lempeng bumi dan bencana gunung berapi.
Setelah selesai bertemu dan mengadakan perjanjian dengan Kanjeng Ratu Kidul maka Panembahan Senopati menyelesaikan meditasinya. Momentum selesainya meditasi sang Panembahan ini adalah datangnya Sunan Kalijaga yang mengijazahkan pusaka Kyai Tunggul Wulung untuk dimiliki Raja-Raja Mataram secara turun temurun. Sunan Kalijaga akhirnya berpesan kepada Panembahan Senopati jangan terlalu mengandalkan kesaktiannya. Tidak lupa berdoa dan ikhlas menyerahkan hasil usahanya pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Bala bantuan pasukan gaib Kanjeng Ratu Kidul itu dalam sejarah benar-benar terbukti. Suatu ketika Kerajaan Pajang berkekuatan 10.000 orang yang dipimpin langsung Kanjeng Sultan Hadiwijaya menggempur kerajaan Mataram berkekuatan 1000 orang dipimpin Panembahan Senopati. Di wilayah Prambanan, kedua pasukan ini bertemu dan terjadilah peperangan yang berat sebelah.
Menyadari kekuatan pasukan Mataram yang kecil, Juru Martani mendapat wisik agar menabuh bende Ki Bicak. Bende ini peninggalan Ki Ageng Sela. (Bende ini pun ada sejarahnya. Konon sewaktu menanggap wayang dengan dalang Ki Bicak, Ki Ageng Sela jatuh hati pada isteri sang dalang. Ki Ageng kemudian membunuh Ki Bicak dan mengambil usteri serta gamelan termasuk bende. Menurut Sunan Kalijaga, bende itu nanti akan menjadi pusaka Keraton Mataram dan bila bende itu dibunyikan maka bunyinya menggelegar memenuhi angkasa dan penabuh akan menang perang.)
Suara Bende yang ditabuh menggelegar ini pula yang kemudian terdengar oleh Kanjeng Ratu Kidul. Itu tanda bahwa Mataram butuh bantuan sehingga Kanjeng Ratu beserta puluhan ribu bala bantuannya datang menyerang pasukan Pajang. Sementara penguasa gunung Merapi yaitu Kyai Sapu Jagad membuka kunci kawah gunung tersebut. Gunung Merapi meletus di tengah kegelapan, hujan lebat, banjir dan gempa bumi. Bala bantuan gaib yang berpadu dengan kekuatan alam yang hebat itulah yang membuat pasukan pajang berkekuatan lebih besar itu morat marit. Sultan Hadiwijaya sosok yang sakti mandraguna —yang mudanya disebut Jaka Tingkir dan punya guru sakti yaitu Ki Ageng Sela—ini pun harus terjatuh dari gajah tunggangannya dan harus melarikan diri dalam keadaan terluka yang parah.
Panembahan Senopati terus mengejar dengan 40 orang pasukan khususnya hingga masuk ke wilayah Pajang. Tahu kekuatan Panembahan yang tidak seberapa itu, pasukan Pajang yang dipimpin Benawa, anak Sultan Hadiwijaya segera siap melakukan penghadangan dan penumpasan. Namun Benawa diwejang sang ayah agar tidak membunuh Panembahan Senopati
“Jangan berani terhadap kakangmu (panembahan senopati), karena kalau aku sudah wafat maka kakangmu itu yang menjadi penggantiku. Rukun dan berbaktilah padanya” ujar Sultan Hadiwijaya yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1587 atau tiga tahun setelah ayah Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan wafat.
Memang sudah menjadi takdir bahwa Sultan Hadiwijaya wafat pada tahun itu. Namun konon salah satu lantaran sebabnya adalah berikut ini. Ki Juru Taman, seorang raja Jin abdi Panembahan Senopati menawarkan jasa untuk membunuh Sultan Hadiwijaya. Mendengar tawaran itu, Panembahan Senopati berkata: “Saya tidak punya niat seperti itu, tapi jika engkau ingin membunuhnya maka terserah dan saya tidak memberi perintah padamu tapi juga tidak melarangmu!”
Tahu dan tanggap sasmita narendra apa yang diinginkan sang Panembahan, Raja Jin Ki Juru Taman segera melakukan aksi membunuh Sultan Hadiwijaya dengan kesaktiannya. Jenazahnya dimakamkan oleh masyarakat di Makam Kota Gede, yang berjajar dengan Makam Nyai Ageng Enis, ibu Ki Ageng Pemanahan dan Pangeran Jayaprana— leluhur Raja-Raja Surakarta dan Yogyakarta.
Situs Selo Gilang Lipura, Peninggalan Danang Sutawijaya
![]() |
| Selo Gilang, Lipura |
Keberadaan situs Selo
Gilang Lipura adalah salah satu situs penting dalam sejarah Kerajaan Mataram
Islam. Lokasinya berada di Desa Wisata Gilang Harjo, Pandak, Bantul, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Situs ini merupakan peninggalan Danang Sutawijaya, pendiri
sekaligus raja pertama Mataram.
Situs Selo Gilang ini
diyakini oleh para kawula Mataram sebagai petilasan shalat, meditasi dan dzikir
Danang Sutawijaya serta gurunya, yakni Ki Ageng Pemanahan.
Batu yang menjadi
sajadah Panembahan Senopati (nama masyhur Sutawijaya) tersebut konon dahulunya
berada di tengah danau kecil di alam terbuka. Di petilasan itulah Sang
Panembahan dalam istilah Jawa "kewahyon" atau mendapatkan wahyu
(ilham) Lintang Johar untuk mendirikan kerajaan Mataram Islam.
Nama Lintang Johar
berdasarkan keyakinan orang Jawa mengacu kepada cahaya Jauhar Awwal Rasulullah
atau Nur Muhammad. Cahaya awal penciptaan segala sesuatu yang lapis-lapis
cahaya itu dijelaskan dalam QS. An-Nuur 35.
Kini batu sajadah itu berada di dalam cungkup
(rumah kecil) dan dijaga oleh juru kunci Kraton Ngayogyakarta. Setiap Selasa
Kliwon ada kegiatan rutin masyarakat yang disebut Mujahadah Malem Rebo Legi.
Dengan hanya diterangi oleh obor dan teplok, ummat berdoa di lokasi bersejarah tersebut.
Penerangan listrik memang "disingkiri" atau ditabukan di lingkungan
situs. Barangkali tujuannya agar suasana menjadi lebih khusyu dan syahdu.
Pelet Bulu Perindu, Si Penakluk Sukma
| Bulu Perindu |
Dalam praktek praktis pemakian bulu perindu si penakluk sukma ini
sangatlah mudah dan anda tidak perlu ritual khusus, seperti: puasa, bakar
menyan dan lain sebagainya, anda juga tidak perlu ketemu dengan target atau
yang anda tuju, jadi sangat mudah walaupun pasangan anda berada jauh di luar
kota atau di luar negri, selain aman dan tanpa epek samping bulu perindu si penakluk sukma juga
dapat di gunakan oleh siapaun tua ataupun muda dan bebas semua agama dan
pantangan,
Untuk mengembalikan
pasangan yang jauh dan tidak cinta lagi sedangkan kamu sudah habis2san dengan
si dia, caranya mudah, ambil bulu perindu yang kami berikan letakkan di bawah
bantal, kemudian baca mantra yang kami berikan dan sebut namanya, maka target
yang anda tuju l;angsung teringat dengat anda, makan tak enak tidur tak nyeyak
ingin selalu bertemu dengan anda, maka dari yang terkena pelet bulu perindu
sukma akan rindu menagis dengan anda.
Sedangkan cara
pemakaian pelet bulu perindu si
penakluk sukma buat pasangan yang sudah tidak harmonis caranya juga sama
dengan cara yang di atas, namun jika anda satu rumah dengan target berikan dia
air bekas rendaman bulu perindu sukma tapi jangan sampai ketahuan, maka yang
telah meminum air rendaman bulu
perindu sukma akan semakin cinta dan sayang, satu lagi tidak pelit
lagi, Menarik bukan , tunggu apalagi pesan sekarang juga jangan tunggu kegalauan
anda semakin berlarut larut bisa tidak enak makan dan tidak enak tidur, galau
selamanya.Selasa, 14 Maret 2017
Ajain Gunthur Lathi, Pernah Dimiliki Gajah Mada
![]() |
| Gajah Mada |
Dalam cerita
kepahlawanan yang berbumbu dengan kesaktian, biasanya cerita tersebut, yang lebih ditonjolkan adalah
kesaktiannya, bisa ini dan bisa itu. Intinya, begitu saktinya tokoh dalam cerita
tersebut.
Konon, Ajian Gunthur
Lathi adalah nama salah satu ilmu penakluk yang paling kesohor. Orang yang berhasil menguasai Ajian Gunthur
Lathi atau mulut petir ini, maka orang tersebut jika sedang marah maka secara
otomatis nada suaranya akan berubah sangat keras laksana petir mengelegar….
Mantera atau ajimah
memang sudah ada sejak dulu kala. Maka jangan heran jika nenek moyang dulu
mampu merobohkan musuhnya cukup dengan sekali bentakan saja, tanpa perlu beradu
fisik. Gajah Mada, misalnya.
Konon, salah satu ilmu
kesaktian yang dimiliki oleh Gajah Mada salah satunya adalah Ajian Guntur
Lathi. Karena menguasai Ajian Gunthur Lathi atau mulut petir ini, maka bila ia
sedang marah atau menghadapi musuhnya secara otomatis suaranya akan berubah
sangat keras laksana petir mengelegar. Manusia atau hewan seganas apapun akan
roboh terpaku di bumi bila terkena bentakannya.
Menurut cerita versi
lain, Ilmu Gunthur Lathi merupakan warisan dari raja besar Majapahit yakni
Prabu Hayam Wuruk, sang raja arif dan bijaksana. Di bawah kekuasaannya
Majapahit dapat menguasai atau menyatukan persada Nusantara di dibawah panji
Majapahit.
Cerita tersebut
menyebutkan bahwa memang sejak kecil Prabu Hayam Wuruk telah digembleng dengan
ilmu kedigdayaan, hal disebabkan memang dirinya telah dipersiapkan untuk
menjadi raja yang sakti mandraguna. Telah banyak ilmu yang dikuasainya dan satu
diantaranya adalah Ilmu Guntur Lathi.
Berkat dukungan dan
bimbingan Mahapatih Gajah Mada, ilmu langka dan unik ini dapat dikuasai dengan
sempurna. Dikisahkan, saat melakukan perburuan binatang di sebuah hutan,
rombongan pasukan raja disergap oleh sepuluh ekor singa yang keberadaannya
muncul secara tiba-tiba dari balik bukit.
Dapat diduga dengan
pasti para pengawal itu langsung membuat formasi pagar betis untuk melindungi
raja muda, Hayam Wuruk. Tetapi pengawal-pengawal itu terkejut, karena mereka
diperintahkan untuk menyingkir. Sementara itu, Prabu Hayam Wuruk keluar dari
pagar betis yang dibuat oleh para pengawal sejatinya.
Tak dapat disangka,
segerombolan singa yang jaraknya masih jauh kira-kira dua ratus meter itu
kemudian meraung-raung roboh dan tidak dapat berdiri lagi. Mereka ingin berlari
namun susah. Namun dengan bijaksana akhirnya singa-singa dilepas bebas ke
habitatnya oleh Prabu Hayam Wuruk.
Konon pula kabarnya,
ilmu ini diwariskan kepada putera-puteranya, namun tak banyak yang menguasai
ilmu hebat ini dengan sempurna. Hingga kemudian kerajaan Majapahit runtuh dan
para pangeran banyak yang melarikan diri ke pegunungan untuk mencari tempat yang
aman.
Untuk menguasai Ilmu
Guntur Lathi sangatlah berat, terutama bila tak ada niat yang besar dan kuat.
Adapun manteranya, adalah:
Sun amatake ajiku si guntur lathi, Guntur lathi
kuwang-kuwang, Midhaku raku, Guntur lathi pangucapku, Nyaut ora
nyiduk, gajah meta kala manembah, Rep sirep sangking kersanung gusti .
Syarat dan tatalakunya, adalah:
§ Melakukan puasa ngelowong selama tiga hari, yakni dimulai hari
Rabu Pon sampai Jum’at Kliwon.
§ Tiap sore sampai tengah malam pukul 00.00 tidak boleh tidur.
§ Tiap petang atau menjelang Maghrib membaca mantera di atas.
Bila merasa ragu
jangan melakukan segala syarat dari ilmu ini dan lupakan untuk menguasainya,
karena selama menjalankan atau melakukan syarat ini Anda mungkin akan mengalami
banyak keganjilan. Demikianlah sekilas tentang sebuah teknologi di masa silam
yang sangat dahsyat, bernama Ajian Gunthur Lathi.
Mencari Katentreman di Candi Kethek
Keberadaan
situs yang dikenal dengan nama candi Kethek berada di
lereng barat Gunung Lawu. Candi ini terletak
di Desa Blumbang, Jenawi, Karanganyar.
Konon, candi Kethek merupakan
peninggalan peradaban Hindu, sekitar tahun 1451 M. Konon banyak kejadian mistis
terjadi di candi yang bentuknya tak seutuh Candi Cetho ataupun Candi Sukuh yang
ternama di Karanganyar.
Candi Kethek adalah sebuah situs bekas bangunan candi dengan
empat teras bertingkat yang menghadap ke arah barat. Masing-masing teras itu
dihubungkan dengan undakan batu.
Candi Kethek dikelilingi oleh bukit-bukit yang lapang, dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.
Pada teras pertama candi terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Teras kedua dan ketiga masing-masing terdapat dua struktur bangunan di sisi utara dan selatan. Sedangkan teras keempat, teras teratas, diperkirakan merupakan tempat berdirinya bangunan induk candi, yang sekarang didirikan sebuah istana kecil dengan kemuncak mahkota berwarna keemasan, dibalut Kain Poleng khas Bali.
Untuk menuju ke Candi Kethek, jalan yang ditempuh tak mudah.
Dari Candi Cetho masih harus menempuh jarak kurang lebih empat kilometer, melewati
tengah hutan yang sulit dilalui. Agar tidak tersesat, meminta bantuan dari
warga sekitar sangat direkomendasikan.
Candi Kethek sendiri pertama kali
ditemukan oleh warga, Sudarno, yang sedang mencari rumput di tengah hutan.
Ketika ia menyabit rumput, ia terkejut sebab berulangkali arit yang digunakan
menyentuh benda keras. Ketika digali lagi, ternyata benda keras tersebut
berwujud batu bersusun sepanjang 1,5 meter.
Sebelum Sudarno menemukan candi tersebut, ada sejumlah warga
yang melihat cahaya putih dan hijau yang bersinar di angkasa, kemudian jatuh ke
bukit yang menunjukkan tempat ditemukannya candi tersebut.
Dinamakan Candi Kethek, lantaran ketika ditemukan pertama
kali di puncak bukit, pernah terdapat arca kera (kethek). Namun dalam
perkembangannya, arca tersebut musnah tanpa ada yang mengetahui.
Ada banyak kisah angker di lokasi candi. Penampakan berwujud
kera, suara tanpa wajah, kerap ditemui di sekitar candi. Warga yang kebetulan
sedang berada di sana, diminta untuk tidak bertindak gegabah agar tak mengalami
hal-hal buruk.
Meski
candi ini dikenal wingit dan angker, banyak orang yang mendatangi candi ini
untuk menunaikan lelaku. Ada banyak pengharapan yang disampaikan. Ada yang
ingin meraih ketenteraman hidup, naik pangkat, hingga dilancarkan dalam rezeki.
Tempat ini selalu ramai setiap malam Jumat.
Langganan:
Komentar (Atom)







