Keberadaan
situs yang dikenal dengan nama candi Kethek berada di
lereng barat Gunung Lawu. Candi ini terletak
di Desa Blumbang, Jenawi, Karanganyar.
Konon, candi Kethek merupakan
peninggalan peradaban Hindu, sekitar tahun 1451 M. Konon banyak kejadian mistis
terjadi di candi yang bentuknya tak seutuh Candi Cetho ataupun Candi Sukuh yang
ternama di Karanganyar.
Candi Kethek adalah sebuah situs bekas bangunan candi dengan
empat teras bertingkat yang menghadap ke arah barat. Masing-masing teras itu
dihubungkan dengan undakan batu.
Candi Kethek dikelilingi oleh bukit-bukit yang lapang, dengan berbagai macam pepohonan yang tumbuh di sekitarnya.
Pada teras pertama candi terdapat struktur bangunan di sisi timur laut. Teras kedua dan ketiga masing-masing terdapat dua struktur bangunan di sisi utara dan selatan. Sedangkan teras keempat, teras teratas, diperkirakan merupakan tempat berdirinya bangunan induk candi, yang sekarang didirikan sebuah istana kecil dengan kemuncak mahkota berwarna keemasan, dibalut Kain Poleng khas Bali.
Untuk menuju ke Candi Kethek, jalan yang ditempuh tak mudah.
Dari Candi Cetho masih harus menempuh jarak kurang lebih empat kilometer, melewati
tengah hutan yang sulit dilalui. Agar tidak tersesat, meminta bantuan dari
warga sekitar sangat direkomendasikan.
Candi Kethek sendiri pertama kali
ditemukan oleh warga, Sudarno, yang sedang mencari rumput di tengah hutan.
Ketika ia menyabit rumput, ia terkejut sebab berulangkali arit yang digunakan
menyentuh benda keras. Ketika digali lagi, ternyata benda keras tersebut
berwujud batu bersusun sepanjang 1,5 meter.
Sebelum Sudarno menemukan candi tersebut, ada sejumlah warga
yang melihat cahaya putih dan hijau yang bersinar di angkasa, kemudian jatuh ke
bukit yang menunjukkan tempat ditemukannya candi tersebut.
Dinamakan Candi Kethek, lantaran ketika ditemukan pertama
kali di puncak bukit, pernah terdapat arca kera (kethek). Namun dalam
perkembangannya, arca tersebut musnah tanpa ada yang mengetahui.
Ada banyak kisah angker di lokasi candi. Penampakan berwujud
kera, suara tanpa wajah, kerap ditemui di sekitar candi. Warga yang kebetulan
sedang berada di sana, diminta untuk tidak bertindak gegabah agar tak mengalami
hal-hal buruk.
Meski
candi ini dikenal wingit dan angker, banyak orang yang mendatangi candi ini
untuk menunaikan lelaku. Ada banyak pengharapan yang disampaikan. Ada yang
ingin meraih ketenteraman hidup, naik pangkat, hingga dilancarkan dalam rezeki.
Tempat ini selalu ramai setiap malam Jumat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar