Lokasi
Pamuksan Sri Aji Jayabhaya terletak di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten
Kediri dengan jarak ± 20 Km arah timur laut Kota Kediri. Kata “Pamuksan”
sendiri berasal dari kata dasar “Mukhsa” dengan awalan pa dan berakhiran an
yang bermakna tempat/lokasi, kata ini memiliki arti tempat hilang/naiknya jiwa
dan raga manusia secara bersama-sama menghadap “Sang Pencipta” di alam
kelanggengan. Pamuksan Sri Aji Jayabhaya memiliki luas tanah ± 1650 m2, secara
kajian arkeologis pada area pamuksan tidak ditemukan adanya data-data yang
mendukung adanya suatu bangunan/struktur bangunan candi ataupun bangunan kuno
yang bernilai arkeologis, namun dari kajian Toponim asal kata “Menang” pada
Desa Menang saat ini akan merujuk pada kata “Mamenang” yaitu nama sebuah tempat
dimana Sri Aji Jayabhaya pernah bertahta berabad-abad silam. Dan tidak mengherankan pula apabila disekitar
Desa Menang ini banyak tersebar situs-situs arkeologis yang antara lain : Situs
Arca Thotok Kerot (Dwarapala) di Bulupasar, ± 1 Km sebelah selatan Desa Menang
dan Situs Calon Arang (Struktur bangunan) di Sukorejo, ± 1 Km sebelah timur
Desa Menang.
Sri Aji Jayabhaya atau
Sri Mapanji Jayabhaya adalah sosok raja yang termashur dalam dinamika
kesejarahan Indonesia pada masa Jawa Kuna. Diantara raja-raja masa Kerajaan
Kadiri, Sri Mapanji Jayabhaya merupakan raja yang terbesar yang kemashurannya
masih terpelihara sampai dengan saat ini, terutama apabila dikaitkan dengan
ramalan-ramalannya tentang Tanah Jawa yang teruntai dalam Serat Jangka
Jayabaya.
Sri
Mapanji Jayabhaya memiliki gelar dengan Abhiçekanama, “Sri Maharaja Sri Warmesswara Madhusudana wataranindhita
Suhrtasingha Parakrama Digjayo-Ttunggadewanamma Jayabhayalancana”.
Gelar Abhiçekanama ini memiliki arti : “ Sang Raja Agung, Sang Mulia Pemilik
keadilan, Titisan Wisnu yang tanpa cela, Maha kuat dan berani laksana singa dan
pemenang atas dunia, dialah Jayabhaya “.
Sri Mapanji Jayabhaya
bertahta di Kadiri-Mamenang pada tahun 1135 – 1157 Masehi, Raja ini tidak hanya
terkenal karena hasil kasusasteraannya yang agung, (oleh sejarawan, masa
Jayabhaya disebut sebagai jaman emas karya sastra Jawa Kuna) namun Sri Mapanji Jayabhaya
juga terkenal karena “kecemerlangannya” dalam memimpin Kerajaan Panjalu.
Kecemerlangan Jayabhaya terbukti pada politik penyatuan kembali kerajaan
Panjalu-Jenggala dibawah Panji-panji kebesaran KERAJAAN KADIRI pada tahun 1157,
dua kerajaan ini dahulu dibagi oleh Raja Airlangga yang juga merupakan leluhur
Sri Mapanji Jayabhaya.
Kemenangan Sri Mapanji
Jayabhaya atas Jenggala ini ditorehkan dalam sebuah prasasti bernama Prasasti
Hantang (berada di daerah Ngantang-Malang), dan juga di”epos”kan dalam sebuah
karya sastra berbentuk Kakawin yang berjudul “BHARATAYUDHA”. Tokoh Jayabhaya
dalam Kakawin Bharata Yudha diibaratkan sebagai sosok Arjuna yang berhasil
memenangkan perang Bharata Yudha pada perang saudara antara Pandawa dan Kurawa.
Karya Sastra ini disebut pula sebagai Jayasastra (karya sastra tentang
kemenangan) yang dikarang oleh Empu Sedah dan dilanjutkan Oleh Empu Panuluh.
Beberapa karya sastra lain yang diciptakan pada masa Jayabhaya antara lain
adalah Gathotkacaçraya, Hariwangça dan Serat Jangka Jayabhaya.
Pamuksan
Sri Aji Jayabhaya dibangun oleh masyarakat Kabupaten Kediri sebagai bentuk
penghormatan atas kebesaran leluhurnya, pembangunan pamuksan Sri Aji Jayabhaya
pertama kali dilaksanakan pada tanggal 22 Februari 1972 dan diresmikan pada
tanggal 17 April 1976. Pembangunan ini diprakarsai oleh Yayasan Hondodento yang
berasal dari Yogyakarta. Bangunan yang ada di Pamuksan terdiri dari 3 (tiga)
bagian pokok, yaitu Loka Muksa (tempat Sri Aji Jayabhaya muksa), Loka Busana
(Lambang tempat busana sebelum muksa) dan Loka Mahkota (Lambang tempat Mahkota
diletakan sebelum muksa). Selain bangunan pamuksan pada area ini juga terdapat
bangunan Sendang Tirto Kamandanu, yaitu bangunan kolam yang memiliki sumber
air, tempat bersuci sebelum pelaksanaan kegiatan ritual di pamuksan. Kegiatan
ritual yang dilaksanakan setiap tahun di Pamuksan Sri Aji Jayabhaya adalah
Kegiatan Upacara Adat Ziarah Sri Aji Jayabhaya, kegiatan upacara adat ini
dilaksanakan setiap tanggal 1 Sura (pada kalender penanggalan Jawa).
Kegiatan Upacara Adat
ini terdiri dari beberapa rangkaian prosesi yang diawali dengan prosesi kirab
pusaka yang diikuti oleh masyarakat dan sesepuh Desa Menang dilanjutkan dengan
prosesi ziarah dan tabur bunga di bangunan Pamuksan, setelah kegiatan inti
kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berbagai hiburan rakyat. Kegiatan Ziarah
Sri Aji Jayabhaya, saat ini telah menjadi salah satu bagian dari kelender event
pariwisata di Kabupaten Kediri dan merupakan andalan pariwisata minat khusus
(wisata budaya) Kabupaten Kediri. 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar