Pada suatu ketika dalam arena sabung ayam
jago, tersebutlah seorang pemuda tampan bernama Gendam Smaradana yang memiliki
ayam jago wido selalu mengikuti kegiatan sabung ayam di pendopo Kadipaten
Panjer. Ketampanannya ini ternyata menarik perhatian Istri Adipati Panjer
sehingga iapun menaruh hati pada Gendam Smaradana.
Ketertarikan Istri Adipati Panjer yang
berlebihan memicu kecurigaan sang Adipati. Maka diam-diam Adipati Panjer
menyusun rencana untuk melenyapkan Gendam Smaradana dari Kadipaten Panjer. Sang
Adipati mengajak Gendam Smaradana untuk bertanding di arena sabung ayam dan
sang Adipatipun dengan sengaja mencari-cari kesalahan Gendam Smaradana, hingga
pada puncaknya Adipati Panjer menghunus senjatanya untuk menikam Gendam
Smaradana. Namun istri sang Adipati yang mengetahui gelagat suaminya itu
berteriak sehingga Gendam Smaradana berhasil berkelit dari serangan sang
adipati dan reflek pemuda ini membalas serangan adipati dengan menusukkan
sebilah pisau miliknya ketubuh sang adipati, malang tak dapat ditolak sang
adipatipun tertusuk dan menemui ajalnya. Adipati Panjer tewas ditangan Gendam
Smaradana.
Tewasnya Adipati Panjer ini menjadikan
kemarahan seluruh rakyat Panjer, mereka beramai-ramai mengejar Gendam Smaradana
dan Istri Adipati Panjer untuk membalas kematian pemimpinnya itu. Melihat
kemarahan rakyat Panjer, Gendam Smaradana dan Istri Adipati Panjer melarikan
diri ke arah timur menuju menuju Hutan, rakyat Panjer-pun mengepung hutan itu.
Gendam Smaradana dan Istri Adipati Panjer yang
terkepung dan terdesak, akhirnya mereka berdua memutuskan menceburkan diri di
sebuah sumber air (sendang) di tengah hutan hingga merekapun hilang (murca)
disana. Bersamaan dengan terceburnya dua orang ini, maka sumber air tersebut
meluap/tumpah secara terus menerus (bahasa Jawa=Mubal), masyarakat yang masih
diliputi kemarahan menutupi/menyumbat sumber air ini dengan ijuk dan tanaman
kedelai.
Untuk mengingat peristiwa tersebut, sendang
tersebut oleh masyarakat diberi nama Sendang Kemantenan dan pada masa kemudian
dikenal sebagai sendang/sumber Ubalan. Sampai kini masyarakat setempat memiliki
kepercayaan berupa pantangan membuat sapu ijuk dan menanam serta mengolah
kedelai, adapun Hutan tempat pelarian dua orang tersebut diberi nama Hutan
Wonorejo dan saat ini masih sering didatangi oleh muda-mudi sedangkan Gendam
Smaradana diabadikan dalam bentuk arca yang diberi nama arca Smaradana yang
sampai sekarang keberadaan arca tersebut masih ada di Desa Panjer, Kecamatan
Plosoklaten, Kabupaten Kediri

Tidak ada komentar:
Posting Komentar